HotCopas.net

BEAUTIFUL OF ACEH, PESONA KEINDAHAN PUNCAK GEURUTEE, ACEH JAYA

BEAUTIFUL OF ACEH
PESONA KEINDAHAN PUNCAK GEURUTEE
ACEH JAYA, NANGGROE ACEH DARUSSALAM


Nanggroe Aceh Darussalam, siapa yang tidak kenal dengan Provinsi di ujung utara pulau Sumatera ini dulu pernah luluh lantah karena dihantam Tsunami.

Meski banyak wilayahnya yang hancur, keindahan alam provinsi berjuluk Serambi Mekah ini masih bisa dinikmati. Panorama alam yang indah, salah satunya bisa anda nikmati di Gunung Geurutee. Kawasan gunung ini merupakan tempat melihat matahari terbenam terbaik di Aceh.

Geurutee adalah sebuah gunung yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Aceh Jaya dan Aceh Besar, sekitar 1 Jam 30 Menit dari Kota Banda Aceh, ibukota provinsi Aceh.

Map:
Gunung ini menjadi lintasan jalan nasional menuju kawasan barat selatan Aceh. Geurutee juga merupakan bagian dari hutan Ulu Masen yang kini dinobatkan sebagai salah satu hutan penyuplai oksigen kepada dunia. Gunung ini punya jurang yang sangat dalam dan langsung berbatasan dengan bibir pantai Samudra Hindia. Ciri khas dari Geurutee ialah sebuah monumen yang berbentuk runcing sebagai tanda bahwa pengunjung berada pada posisi pendakian tertinggi pegunungan tersebut. Dari tempat itulah, siapapun dapat melihat keindahan alam yang terhampar luas.

Perjalanan ke Puncak Geurutee harus melewati Gunung Paro dan Kulu. Kendaraan akan melintasi jalan tanjakan, turunan curam, dan tikungan tajam. Di sisi jalan, ada jurang dan tebing tinggi yang kerap longsor saat musim hujan sehingga pengendara harus hati-hati. Kalu lagi musim durian, maka anda dapat menikmati durian yang banyak dijual di kiri kanan jalan. Karena di kawasan gunung ini memang banyak kebun durian milik warga.

Karena menjadi lintasan jalan nasional menuju kawasan barat dan selatan Aceh, kawasan Gunung Geurutee kerap menjadi tempat persinggahan bagi yang melakukan perjalanan jauh. Namun ada juga yang sengaja datang kesini untuk menikmati pemandangan laut dari pinggir-pinggir tebing. Mereka menikmati keindahan panorama gunung ini, sambil menyeruput kopi aceh. Di sepanjang kawasan gunung ini memang banyak berdiri warung kopi yang menyediakan kopi khas Aceh. Selain menjajakan kopi, warung-warung ini juga menjajakan makanan dengan harga yang terbilang murah.

Tiba di puncak Gunung Geurutee, anda akan melihat bentangan samudra yang begitu luas, pulau-pulau kecil tanpa penghuni. Dari puncak Gunung Geurutee juga tampak Kota Lamno, sebuah kota kecil yang konon katanya terdapat banyak gadis-gadis bermata biru rambut pirang keturunan Portugis. Menurut sejarah Kota Lamno pernah ditempati kaum Portugis. Puncak Gunung Geurutee juga merupakan salah satu spot favorit bagi yang hobi hunting foto, karena di puncaknya terlihat indah pemandangan matahari terbenam yang ditelan samudra.

Sunset:
Puncak Geurutee adalah sensasi keindahan objek wisata lawas di Aceh. Semasa konflik antara Tentara RI dan-GAM, orang-orang ogah singgah di Geurutee meski cuma sebentar membuang hajat ringan. Pasalnya, daerah ini sering dijadikan arena baku tembak pihak yang berkonflik. GAM tersihir menjadikan Geurutee sebagai area jebakan pasukan TNI/Polri yang melintas di sana. Dan itulah cerita dulu yang kini mulai terkelupas dari benak orang Aceh, juga rakyat Indonesia.

Panorama Puncak Geurutee, sebenarnya, lebih menggoda ketimbang Puncak Cisarua, Bogor. Dari ketinggian gunungnya, mata Anda dimanjakan genitnya deburan ombak putih yang tak pernah letih berkejar-kejaran, laut dalam yang membiru, dan onggokkan bukit nan indah. Pun jika cuacanya cerah dan matahari mulai jatuh ke ufuk barat, bisa dipastikan Anda bakalan tak membiarkan sunset berlalu begitu saja. Itulah Geurutee, sebuah puncak yang mengalami perkimpoian sempurna antara pegunungan terjal, hamparan sawah, kebun, laut, hutan, lembah, ngarai, dan teluk yang eksotik. Karena pesonanya itu, kemudian, orang-orang memanfaatkan Geurutee sebagai sandaran hidupnya lewat berjualan kopi, teh, makanan, dan aneka minuman ringan sebagai pelengkap untuk bersantai.

Apalagi puncak Geurute tak begitu jauh dari pusat Kota Banda Aceh. Jaraknya sekitar 72 kilometer atau satu jam perjalanan. Jika Anda ingin ke pantai barat dan selatan Aceh pastilah melintasi kawasan ini. Pasca Aceh dilibas tsunami, USAID merehabilitasi dan merekonstruksi infrastruktur jalan menuju Geurutee yang terkelupas dan porak-poranda. Gak tanggung-tanggung! Kualitas jalan aspalnya pun amazing: setara jalan sirkuit Formula one (F1)! Mmm… tapi hati-hati loh bila nyetir di kawasan itu! Jika kita syur tekan pedal gas tanpa kontrol, speedometer mobil Anda bisa-bisa sudah di angka 160 kilometer perjam. Fantastik!!!

Mulus:
Ya, itulah sisi lain yang membedakan Geurutee dengan Berastagi, Tanah Karo, Sumatera Utara, misalnya, atau Puncak Bogor seperti kita bilang di atas tadi.
KEINDAHAN GEURUTEE:
Dalam perjalanan menuju puncak Geurutee, anda juga akan melewati lokasi wisata lainnya yang biasa ramai dikunjungi wisatawan.
Berikut destinasi lain yang bisa disinggahi dalam perjalanan ke Geurutee.


1. PANTAI ULEE LHEU

Aceh! Letaknya di ujung pulau Sumatera dan dikelilingi oleh pantai-pantai eksotis yang indah menjadi salah satu destinasi wisata yang harus dikunjungi oleh para traveler. Salah satu pantainya adalah Pantai Ulee Lheue, yang terletak di Kecamatan Meuraksa, Banda Aceh, Aceh. Di sinilah terletak pantai dan Pelabuhan Ulee Lheue.

Pelabuhan Ulee Lheue menjadi andalan objek wisata Kota Banda Aceh karena perairannya berhadapan langsung dengan Pulau Aceh dan Pulau Sabang dan memiliki panorama sunset yang indah. Lokasinya mudah diakses karena tidak jauh dari pusat kota, sekitar 15 menit berkendara dari Pusat Kota melewati Blang Padang dan Punge Blang Cut. Sangat tepat untuk rekreasi keluarga, melepas penat usai bekerja atau hanya sekedar hang out dengan sahabat melewati senja bersama. Pantai Ulee Lheue merupakan salah satu kawasan wisata yang terkena dampak parah saat tsunami 2004 silam yang meluluhlantakkan hampir seluruh kawasan ini. Pasca tsunami, kawasan Ulee Lheue dibenahi oleh pihak Pemerintah Kota Banda Aceh dengan membangun tanggul pengaman dan jalan dua jalur yang menghubungkan Banda Aceh menuju pelabuhan penyeberangan. Ulee Lheue tetep mempesona dengan keindahannya.

Panorama di Pantai Ulee Lheue ini amat memikat hati siapa yang melihatnya. Bagaimana tidak, siang hari bagaikan lukisan alam yang dihiasi barisan pegunungan serta pulau-pulau kecil di kejauhan. Panorama ini semakin terlihat cantik saat matahari hendak kembali ke peraduaannya. Bila malam hari lampu warna-warni menghiasi indahnya kawasan ini. Pengunjung Pantai Ulee Lheue selain dapat menimati keindahan suasana pantai yang berair tenang, juga bisa mencoba permainan air seperti bebek air atau menyewa boat kecil untuk sekedar memutar mengelilingi pantai. Selain itu, kawasan ini juga dipenuhi pemancing yang ingin memancing ikan karang seperti ikan kerapu atau rambe. Anda bahkan bisa berkoordinasi dengan nelayan setempat untuk meminjam atau menyewa perahu dan memancing ke laut.

Sore hari banyak pedagang kaki lima yang menjajaki dagangannya di sepanjang jalan di tepi pantai. Ada yang berjualan kelapa muda, jagung bakar, siomay, sate dan makanan ringan lainnya. Selain dikenal dengan wisata alamnya, Ulee Lheue juga dikenal dengan wisata kuliner. Situasi ini sangat cocok menjadi tempat nongkrong dan bersantai di sore hari bersama keluarga dan sahabat. Melihat sunset yang indah sembari menikmati kuliner yang tersedia di sana. Pengunjung bisa duduk di tempat yang rindang atau di batu-batu besar yang menjadi tanggul yang menghadap langsung ke laut.

Kondisi Pantai Ulee Lheue terbilang tenang sehingga memungkinkan untuk berenang atau bermain pasir, naik bebek air, memancing, ataupun hanya duduk sambil melihat pesona burung pantai dan temaram tenggelamnya Matahari. Kelebihan pantai ini adalah lokasinya yang strategis, mudah dijangkau dan cukup ekonomis. Pantai ini dibuka hingga magrib, malam hari ditutup untuk menghindari terjadinya perbuatan negatif yang melanggar syariat. Usai melihat sunset pengunjung bisa melaksanakan salat di Masjid Baiturrahim. Inilah satu-satunya bangunan di pinggir Pantai Ulee Lheue yang berdiri kokoh saat Tsunami menerjang, sementara bangunan lain yang berada di sekitarnya luluh lantak di hantam Gelombang Tsunami. Sungguh kekuasaan Allah yang maha dahsyat. Sungguh menambah kesyahduan dan kekhusyukan melaksanakan salat di sini.

Ingin menikmati eksotisnya panorama Pantai Ulee Lheue? Datanglah Ke Banda Aceh, nikmati keindahan alam dan rasakan eksotisnya pantai di ujung Pulau Sumatera ini. Wonderful Aceh!!!

ULEE LHEU:
2. PANTAI LAMPUUK
Menikmati terik matahari di pantai berpasir putih, berselancar di ombak laut yang biru, dan menunggu keanggunan matahari terbenam tidak hanya bisa dinikmati di Bali. Aceh punya Pantai Lampuuk yang memiliki semua kelebihan itu. Pantai yang berada di wilayah Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, ini menghadap ke Samudra Hindia.

Lokasi Pantai Lampuuk persisnya di wilayah barat Aceh, sekitar 15 kilometer dari Banda Aceh. Kondisi jalan menuju ke tempat itu cukup bagus sehingga memudahkan wisatawan. Belum ada angkutan umum ke sana sehingga wisatawan harus menggunakan kendaraan pribadi.
Pantai Lampuuk memiliki garis pantai sepanjang sekitar 5 kilometer. Pantai ini berpasir putih bersih nan lembut, air laut berwarna biru kehijauan, dan ombak yang bersahabat untuk para peselancar. Ke arah daratan terdapat pepohonan pinus yang rimbun dan lebih jauh lagi terlihat deretan pegunungan yang hijau.

Ketika petang menjelang, pengunjung pun bergegas ke pinggir pantai menanti sang surya turun ke peraduannya. Kebanyakan mereka bersiap dengan kamera masing-masing untuk mengabadikan keindahan alam kala sang surya terbenam di ufuk barat. Panorama alam itu membuat Pantai Lampuuk menjadi salah satu primadona wisata di Aceh. Apalagi, pantai itu berada di daerah perkampungan yang masih sepi dan tenang. Di sana, wisatawan bisa sesaat melepas penat dari hiruk-pikuk suasana kota yang bising. Tak hanya bagi wisatawan lokal Aceh, keindahan Pantai Lampuuk juga menggoda sejumlah wisatawan dari luar Aceh untuk datang bahkan turis mancanegara.

Lampuk:
3. PANTAI LHOKNGA
Secara administratif, Pantai Lampuuk berada di Kecamatan Lhoknga, sehingga sebenarnya sedikit ambigu membedakan antara Pantai Lampuuk dan Pantai Lhoknga. Akan tetapi, umumnya orang-orang disana memberi sebutan 'Pantai Lhoknga' untuk daerah di belakang Lapangan Golf Lhoknga hingga ke taman tepi laut setelah Komplek Pabrik Semen Andalas. Adapun sebutan Pantai Lampuuk dikhususkan untuk ruas pantai yang membentang dari Babah Satu hingga Babah Empat. Meskipun posisi kedua pantai ini berdekatan, tetapi keduanya memiliki keunggulan masing-masing. Jika kini pantai Lampuuk identik dengan rekreasi Banana Boat dan kuliner ikan bakarnya, maka Pantai Lhoknga lebih dikenal dengan lapangan Golf, aktivitas Surfing dan memancing. Khusus untuk selancar, ombak Pantai Lhoknga yang besar dan garang telah terkenal di kalangan komunitas selancar internasional.

Umumnya, para peselancar mengenal ada dua tipe ombak berbeda di bulan-bulan tertentu di Lampuuk. Bulan Juni hingga November di saat musim angin Barat terkenal dengan ombak pantainya (beach break), sedangkan di bulan Desember hingga Mei saat angin Timur berhembus terkenal dengan ombak karangnya (reef break). Para peselancar pun mengenal ada lima titik ombak yang bisa dinaiki peselancar di Lampuuk. Yang pertama adalah 'Left Hander Point', yaitu ombak kiri yang berjarak 300 meter dari bibir pantai yang amat cocok bagi mereka yang baru mengenal selancar. Kedua adalah 'Cemara Right Point', yaitu ombak kanan berjarak sekitar 300 meter dari pantai. Kedua titik ini menjadi titik favorit bagi para peselancar asal Negeri Sakura Jepang. Selanjutnya, 'Peak Point' yaitu ombak kanan dan kiri yang berjarak 300 meter dari pantai. Arusnya yang kuat membuat para peselancar harus lebih berhati-hati disini.
Seorang peselancar lokal yang tewas ketika Tsunami 2004 bernama Suri diabadikan menjadi nama titik keempat, yaitu 'Suri Point' yang berjarak 200 meter dari pantai. Semasa hidupnya, Suri adalah spesialis di titik ini. Terakhir, 'Out Side Right Hander' yaitu Ombak kanan yang berjarak 500 meter dari pantai yang memiliki arus kuat dan berbahaya.

Pantai dengan jarak kurang lebih 14 kilometer dari Banda Aceh ini juga menjadi spot yang bagus untuk menikmati matahari terbenam. Untuk Anda yang baru menjadi pengantin baru dan ingin mencari tempat untuk berbulan madu, Pantai Lhoknga bisa menjadi alternatif mencari tempat yang romantis. Berada di pantai ini sambil ditemani angin laut di sore hari dan cahaya langit yang mulai temaram membuat suasana terasa romantis.

LHOKNGA:
4. LEMBAH BRAYEUN
Bagi yang bosan dengan wisata pantai di Aceh, Lembah Brayeun bisa menjadi alternatif wisata. Kawasan hijau dan berudara sejuk sangat pas bagi Anda yang mencari ketenangan juga kesegaran saat liburan.

Perjalanan ke Lembah Brayeun di Kecamatan Leupung, Aceh Besar dapat ditempuh kurang lebih 1 jam dari Kota Banda Aceh. Perjalanan dari Banda Aceh terasa tidak membosankan, sepanjang perjalanan menuju Leupung, mata kami dihinggapi pemandangan menarik sepanjang Jalan Banda Aceh-Meulaboh.

Selepas Jembatan Lhoknga, pemandangan terasa tak ada bandingnya. Hamparan laut di sebelah kanan, dan barisan bukit di sebelah kiri. Jalan menuju Leupung kini bisa dilalui dengan sangat nyaman. Jalanannya sudah teraspal dengan baik. Brayeun merupakan sebuah desa di Kecamatan Leupung. Seperti lazimnya sebuah desa yang diapit gunung dan laut, begitu pula dengan desa ini. Wilayahnya mencakup pegunungan hingga pantai.

Tak jauh dari persimpangan jalan Banda Aceh-Meulaboh, kira-kira 2 km, desa tersebut memiliki lembah dengan genangan air yang berasal dari pegunungan. Genangan ini kemudian dibuatkan bendungan oleh pemerintah. Bendungan ini ditujukan untuk kebutuhan irigasi untuk mengairi ladang-ladang milik masyarakat Desa Brayeun dan sekitarnya. Kini Waduk Brayeun menjadi salah satu objek wisata alam di Aceh. Jarak tempuh 2 kilometer dari persimpangan jalan besar menuju lokasi bendungan tidak membuat bosan. Walaupun jalan sempit, tapi sudah dilapisi aspal. Sepanjang jalan, kita juga bisa melihat aliran irigasi yang berasal dari waduk. Airnya bersih dan jernih. Biaya tiket Rp 3.000 untuk orang dewasa, sedangkan anak-anak gratis. Jarak pos tiket hingga ke waduk kira-kira 300 meter, dan melewati kelokan bukit dan jalan aspal yang sempit.

Berlama-lama di dalam air merupakan suatu keharusan jika Anda ingin menikmati pemandangan eksotis khas alam Aceh. Waduk yang langsung dikelilingi oleh bukit yang rimbun terasa sangat nyaman. Seakan masalah, stres pekerjaan dan hiruk pikuk kota hilang dalam sekejap. Damai sekali. Jika ingin bersantai dengan perahu karet, pengelola waduk menyewakan boat dengan tarif Rp 20.000 per jam. Bukan hanya itu, Anda juga bisa menyewa pelampung seharga Rp 5.000 tanpa durasi, artinya pelampung tersebut bisa digunakan hingga bosan. Tapi tentu tidak bisa dibawa pulang.

Berlama-lama di air pasti membuat Anda lapar dan haus. Untuk itu, di sana sudah ada pedagang-pedagang makanan yang sudah menyediakan sajiannya. Uniknya, di setiap warung menyediakan satu makanan khas, yaitu gorengan. Ya, makanan khas bagi orang-orang yang kedinginan air waduk. Anda bisa memilih gorengan berupa pisang goreng dan tempe goreng yang hangat seharga Rp 1.000 per potong.

Walaupun waduk ini merupakan objek wisata yang bebas dikunjungi setiap orang, namun pengelola lokasi punya aturan ketat tentang jadwal penutupan lokasi. Pukul 17.00 WIB, lokasi harus sudah kosong. Setiap hari Minggu, lokasi ini banyak dikunjungi wisatawan, baik dari Banda Aceh, maupun Aceh Besar. Lokasi ini menjadi salah satu alternatif wisata air tawar di Aceh.

Jika Anda ingin menikmati lokasi ini tanpa terganggu dengan jumlah pengunjung yang banyak, datanglah di hari selain hari minggu. Misalnya pada hari libur nasional selain hari Minggu, datanglah di pagi hari. Karena walaupun bukan hari Minggu, hari libur nasional pun lokasi ini ramai dikunjungi walaupun tidak seramai hari Minggu. Atau, jika anda sedang mengambil cuti kantor, datanglah ke sana. Anda akan merasa waduk itu milik sendiri.

BRAYEUN:
5. SUHOM WATERFALL
Pepohonan rimbun nan hijau, udara segar, dan bunyi gemuruh air jatuh dari sela bebatuan di perbukitan menuju telaga biru menjadi kombinasi yang memberikan efek relaksasi ketika berada di kawasan Air Terjun Suhom, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Kawasan ini menjadi alternatif wisata bahari yang sudah umum di ”Bumi Serambi Mekkah”.

Air Terjun Suhom berada di tengah kawasan hutan Lhoong. Jaraknya sekitar 75 kilometer dari Banda Aceh melalui jalur Pantai Barat Aceh. Pengunjung harus menggunakan kendaraan pribadi atau sewa karena belum ada kendaraan umum untuk menuju ke sana. Perjalanan ke lokasi air terjun harus melewati bukit Paro dan Kulu. Kendaraan akan melintasi jalan tanjakan, turunan curam, dan tikungan tajam. Di sisi jalan, ada jurang dan tebing tinggi yang kerap longsor saat musim hujan sehingga pengendara harus hati-hati.

Kendati jalurnya ekstrem, pemandangan di puncak bukit sungguh menawan. Laut biru Samudra Hindia terlihat jelas. Warnanya kontras berpadu dengan hamparan hijau pepohonan yang terbentang dari puncak bukit hingga pinggir pantai. Tak jarang, tampak sejumlah monyet liar bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain.

Jarak dari kawasan perbukitan menuju lokasi Air Terjun Suhom sekitar 30 kilometer. Jalan yang dilalui mulus, lebar, dan datar. Jalan ini merupakan bantuan Badan untuk Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID). USAID mengalokasikan dana Rp 23 miliar per kilometer jalan yang kulitasnya melebihi standar nasional yang berkisar Rp 5 miliar-Rp 10 miliar per kilometer jalan.

Sampai di kawasan obyek Air Terjun Suhom, pengunjung disambut gemuruh air jatuh yang terdengar dari radius 100 meter. Untuk masuk ke lokasi air terjun, pengunjung dipungut retribusi sebesar Rp 5.000 per orang. Air terjun ini memiliki beberapa tingkat. Tingkat pertama, tinggi air terjunnya sekitar 3 meter, tingkat kedua sekitar 5 meter, dan tingkat ketiga sekitar 10 meter. Namun, pengunjung tidak diizinkan ke tingkat dua dan tiga karena di sana terdapat pembangkit listrik tenaga mikro hidro yang mampu menghasilkan listrik sebesar 23 kilowatt per jam.

Di dasar air terjun tingkat satu ini terdapat telaga selebar sekitar 5 meter dengan kedalaman lebih dari 2 meter. Orang-orang banyak berenang di telaga itu. Bagi yang tidak bisa berenang bisa menikmati kucuran air yang jatuh dari atas perbukitan. Air yang jatuh satu-satu ke tubuh rasanya bagaikan pijat refleksi. Ada pula yang berendam di pinggiran telaga menikmati air yang segar dan dingin itu. Suasana di sekitar air terjun teduh karena ternaungi pepohonan rindang yang rata-rata tingginya lebih dari 5 meter. Kadang terdengar suara burung bersaut-sautan.

SUHOM:

Sumber
: Kaskus / agamsaboh88

0 Response to "BEAUTIFUL OF ACEH, PESONA KEINDAHAN PUNCAK GEURUTEE, ACEH JAYA"