HotCopas.net

Beginilah Aksi Nekat KoPK, Demi Trotoar Tanpa Sepeda Motor

Prakata Dari TS Nah ini dia gansis, suatu kegiatan positif yang pantas mendapatkan acungan jempol Kelompok yang menamakan dirinya KoPK atau Koalisi Pejalan Kaki mempunyai misi untuk menyadarkan para pengendara sepeda motor agar tidak merampas hak-hak pejalan kaki yang sedang berjalan di atas trotoar. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa pengendara sepeda motor seringkali menggunakan trotoar demi menghindari kemacetan. Padahal itu kan berbahaya sekali bagi pejalan kaki. KoPK ini melalui aksi-aksi nyatanya berusaha mengembalikan fungsi trotoar sebagaimana mestinya. Seperti apa kisah-kisah aksinya? Berikut uraiannya gansis:
  Beginilah Aksi Nekat KoPK, Demi Trotoar Tanpa Sepeda Motor

Petang itu, Jumat 21 Agustus 2015, azan Magrib baru saja berkumandang. Jam kerja sudah usai. Ribuan kendaraan bermotor telah berjejal memenuhi Jalan Sudirman, Jakarta Selatan. Macet. Tepat di trotoar depan Pintu Satu Senayan, ratusan orang hilir mudik berjalan kaki. Umumnya mereka karyawan kantor yang letaknya di sekitaran jalan protokol itu.

Matahari sudah hilang dari langit. Kegelapan malam mulai tampak. Lampu-lampu penerang jalan mulai menyinari jalanan itu. Keriuhan kendaraan semakin nampak. Bus kota, mobil pribadi, dan sepeda motor saling berebut ruang jalan.

Ketika itu Alfred Sitorus dan tiga kawannya tengah mengobrol di bawah sebuah pohon palem setinggi 4 meter di trotoar Jalan Sudirman itu. Tiba-tiba saja dua pengendara motor nekat menerobos dan naik trotoar. Mereka adalah seorang pengendara motor berseragam sekuriti tak berhelm dan seorang pengojek berjaket sport. Keduanya membawa motornya menaiki trotoar.

Alfred bergeming ketika pengendara motor itu memaksakan motornya lewat. Dia memilih diam namun posisinya menghalangi sepeda motor itu lewat. Suara klakson motor memancar keras mendesak. "Tin!, tin!, tin!"

Tak berhenti di situ, suara raungan gas tak sabar juga menebar teror. Gas sepeda motor sengaja ditinggikan agar Alfred minggir dari trotoar. Namun Alfred malah merebahkan badannya di trotoar. Kedua sepeda motor itu praktis tak bisa lewat.

“Ini untuk pejalan kaki! Hey, ini untuk pejalan kaki!” tegas Alfred dengan posisi berbaring.

Beberapa temannya yang tergabung dalam Koalisi Pejalan Kaki (KoPK) tak tinggal diam. Mereka membantu meneriaki. “Jangan lewat sini dong mas. Ini bukan untuk motor,” kata salah satu dari anggota.

Pengendara motor yang berseragam petugas keamanan dengan wajah tersipu kecut karena malu langsung melipir ke pinggir. Mencari celah untuk kembali ke jalanan. Pengendara motor bebek berjaket sport di belakangnya masih mengklakson.

“Sana, woi, ke sana!” kata Alfred sambil menunjuk ke arah jalan yang macet.

Sambil menahan malu pengendara motor terakhir itu kembali ke jalan. Mereka berdua masuk kembali ke dalam kemacetan yang merayap. Meninggalkan Alfred yang masih tidur di atas trotoar.

Aksi yang berlangsung tak lebih dari lima menit itu sempat menarik perhatian pengguna jalan. Alfred yang nekad merebahkan badannya, tidak khawatir akan dilindas. Sebab, dia menilai apa yang dilakukannya benar.

KoPK memang biasa melakukan aksi menghadang pemotor yang naik trotoar. Aksi ini biasa digelar tiap minggu dan dilakukan setiap hari Jumat. Aksi nekat itu merupakan aksi ke 22 mereka di tahun ini…




Terinspirasi Pertanyaan Polos Anak Kecil


Ketika mereka tengah menggelar aksi menghadang pemotor yang naik trotoar, seorang polisi wanita yang berjaga dipinggir jalan memilih mendiamkan kendaraan yang memarkir motor di lintasan trotoar.

Polwan itu enggan banyak komentar. Dia beralasan sedang bertugas mengatur lalu lintas. Padahal setelah itu polwan yang menggunakan penutup masker berwarna abu-abu itu tidak banyak mengatur. Dia sibuk dengan telepon genggamnya, mengobrol dengan seseorang dari jauh.

“Ya kenyataan yang kita lihat itu sungguh dilematis,” ujar salah satu pendiri sekaligus Ketua Koalisi Pejalan Kaki (KoPK), Alfred Sitorus.

KoPK merupakan perkumpulan relawan yang peduli terhadap hak-hak pejalan kaki yang sering terabaikan karena tertindas ribuan roda kendaraan bermotor yang saling berebut jalan.

Koalisi ini digawangi oleh tiga 'pendekar jalanan', Anthony Landjar, Dedy Herlambang, dan Alfred Sitorus. Mereka dari berbagai latar belakang, tetapi memiliki kesamaan visi dan misi selaku pengguna transportasi umum yang otomatis merupakan pejalan kaki.

Bukan sesuatu yang besar untuk mencetuskan ide pembentukan KoPK. Ide tersebut justru datang dari seorang anak kecil berusia 6 tahun, yaitu anak dari Anthony Landjar yang mempertanyakan banyaknya motor yang mengambil jalan di trotoar. Pertanyaan itu yang menyadarkan Anthony bahwa ada hak pejalan kaki untuk menggunakan trotoar itu yang sudah direnggut para pengguna motor.

"Dari situlah kemudian tercetus ide untuk membuat perkumpulan untuk melakukan sesuatu. Kami ini kan komuter, atau pengguna angkutan umum, baik itu kereta, bus dan lain-lain, setelah menggunakan angkutan umum kami lanjutkan berjalan kaki. Pada saat berjalan kaki itu kita tidak menemukan keamanan dan kenyamanan serta fasilitas yang tidak mencukupi di trotoar, baik itu trotoar maupun zebra cross," cerita Alfred.

Kota tua Jakarta menjadi lokasi aksi pertama koalisi ini. Meski sudah dihalang-halangi, rupanya para pengguna motor ini tetap saja mencari celah untuk berjalan di trotoar guna menghindari macet. Akhirnya, tanpa pikir panjang, Anthony lah yang memulai aksi tidur di jalan guna menutup akses para pemotor melintas di trotoar.

"Sampai saat ini, cara inilah yang sering kami pakai untuk menghalau pengguna motor yang melintas di trotoar," kenang Alfred, lelaki kelahiran Porsea, Sumatera Utara, 21 November 1970 itu.

Mulai saat itu, lanjut Alfred, KoPK rutin melakukan aksi setiap hari Jumat, ketika kemacetan kota berada pada titik puncak. Aksi ini bukan hanya untuk ajang heboh-hebohan, tetapi bertujuan memberikan edukasi dan kesadaran pengguna jalan untuk taat aturan.

"Cobalah... bagi pengendara motor, jangan melawan arah saat berkendara dan jangan melintasi di trotoar, dan jangan parkir di trotoar,” tegasnya.

Saat ini akun media sosial KoPK di facebook telah di-follow sekitar 11 ribu akun yang aktif mengadu. Namun, anggota yang aktif melakukan aksi hanya sekitar 10-15 orang. Komunitas ini telah menyebar ke kota Medan, Yogyakarta, dan Bogor.

Aksi seperti yang dilakukan Alfred ini pun juga dilakukan Nurul, salah seorang relawan KoPK. Ibu dua anak yang tinggal di Bekasi ini tidak takut pasang badan untuk menghalangi para pengendara motor yang mengambil trotoar untuk perlintasannya.

"Waktu di Kebon Sirih itu ada bapak-bapak ngeyel. Dan saya tidak mau ngalah. Jadi dia sempat mau nabrak saya. “Tabrak-tabrak aja,” kata saya. Kemudian pergi deh dia, cuma nyaris," ujarnya.

Bagi Nurul, tergabung dalam KoPK merupakan kegiatan positif yang bisa memberikan edukasi kepada masyarakat cara berlalu lintas yang baik, agar tidak melanggar hak-hak pengguna jalan lainnya.

"Kalau suka dan duka itu jelas ada. Tapi, paling tidak kita bisa menyuarakan hak kita sebagai pejalan kaki. Supaya dapat perhatian pemerintah. Kalau bukan kita yang peduli siapa lagi?," pungkasnya.


Tak Gentar Meski Kerap Terancam

Aksi Koalisi Pejalan Kaki tidak jarang menuai kecaman dari para pelanggar di jalan raya. Makian, bahkan ancaman pun pernah diterima para pelaku aksi.

"Kalau diancam itu sering. Kita diancam pakai pisau pernah, kemudian juga sering diteriakkan orang gila. Padahal kita kan hanya menghalau dan memberitahu, untuk mengembalikan roh dan hakikat dari trotoar," ujar Alfred.

Alfred menambahkan sebenarnya aksi KoPK ini tidak bertujuan untuk cari ribut. Para anggota diarahkan hanya untuk mengedukasi para pengguna jalan. Bahkan, jika ada seseorang yang tidak terima aksi tersebut, para anggota dilarang menjawab dengan kata-kata, hanya menunjukkan poster.

"Kalau mereka mengajak berkelahi kita akan diam saja dengan membawa poster. Dengan diam itu mereka bisa membaca kata-kata dalam poster itu, itu saja udah cukup. Kalau tetap mengajak berkelahi, kita minggir saja," jelasnya.

Alfred menyayangkan masih banyak masyarakat Indonesia yang memiliki pikiran aturan itu hanya bisa ditegakkan di tangan penegak hukum. Jika ada aparat maka mereka akan patuh, tetapi begitu tidak ada, aturan itu langsung dilanggar.

"Harusnya budaya malu masyarakat kita itu yang harus kita tumbuhkan. Polisi itu cuma penegakan hukum. Seharusnya kita mengubah cara berpikir kita. Patuhilah apa yang menjadi aturan," tegasnya.

"Kadang begini, orang-orang kita sering teriak-teriak koruptor, padahal dia sendiri sebetulnya juga koruptor. Dia koruptor dengan mengambil hak pejalan kaki di trotoar," sindir Alfred.

Alfred menyebutkan, kecelakaan lalu lintas di Indonesia menelan angka kematian yang cukup besar. Sekitar 30 ribu dalam setahun orang meninggal di jalan, dan dari jumlah tersebut, 9 ribu di antaranya merupakan pejalan kaki.

"Jadi setiap harinya ada sekitar 19 orang pejalan kaki meninggal di Indonesia. Ini angka yang cukup fantastis," ungkapnya.

Selain mengubah pola pikir pengguna jalan, penegakkan hukum secara konsisten juga sangat diperlukan, serta dukungan pemerintah untuk menciptakan kenyamanan pengguna jalan, termasuk pejalan kaki.

Karena itu, jangan kaget jika di hari Jumat malam, ada seseorang yang nekat tiduran demi menghadang laju pesepeda motor yang mencoba naik trotoar. Mereka bukan sekumpulan orang sinting. Mereka barangkali kawan-kawan Alfred. Mereka adalah pelopor penegak aturan di jalan raya. Demi hak pejalan kaki untuk tiba di rumah dengan selamat.




Galeri Foto













 Nih Videonya Gansis




Sumber : kaskus/ ibnutiangfei

0 Response to " Beginilah Aksi Nekat KoPK, Demi Trotoar Tanpa Sepeda Motor"