HotCopas.net

Dirgahayu Polisi Wanita, Mengenal Sejarah Polwan


Ketegaran seorang Polisi berpadu dengan kelembutan dan keanggunan seorang wanita yang sedang di terpa teriknya sinar mentari. Itulah yang TS lihat di mata seorang Polwan saat mengatur arus lalu-lintas di sebuah jalan raya. Polwan adalah satuan Polisi khusus yang berjenis kelamin wanita. Sejarah telah menuliskan bahwa kelahiran Polisi Wanita (Polwan) di negeri kita ini tidaklah jauh berbeda dengan kelahiran Polisi Wanita di negara lain di dunia. Polwan biasanya bertugas dalam penanganan dan penyidikan terhadap kasus – kasus kejahatan yang melibatkan kaum wanita, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku kejahatan.

Hari ini Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti meresmikan Monumen Polisi Wanita yang terletak di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, pagi ini, Selasa, 1 September 2015. Monumen yang terletak di simpang Stasiun Bukittinggi itu diresmikan setelah adanya pemugaran. Peresmian ini bertepatan juga dengan hari jadi polwan ke-67.

Monumen ini awalnya dibangun pada 1992. Tahun ini merupakan pemugaran kali ketiga, dalam sejarahnya, polwan awalnya dibentuk di Kota Bukittinggi. Itulah alasan mengapa Monumen Polwan dibangun di kota itu.




Sejarah Polwan

Sejarah polwan di Indonesia berawal pada 1 September 1948. Saat itu, di Bukittinggi, pemerintah Indonesia sedang berjuang menghadapi Agresi Militer II Belanda. Akibat serangan besar-besaran Belanda, banyak warga mengungsi. Pria, wanita, dan anak-anak meninggalkan rumah mereka untuk menjauhi titik-titik peperangan.

Ketika memasuki wilayah yang dikuasai Republik, ada penggeledahan untuk memastikan tidak ada penyusup. Namun banyak pengungsi perempuan menolak diperiksa polisi pria.

Pemerintah lalu menunjuk Sekolah Polisi Negara di Bukittinggi untuk mulai merekrut polisi wanita. Polri membuka pendidikan inspektur polisi bagi kaum wanita. Sejak itu, polwan menjadi bagian dari Kepolisian RI.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Indonesia menunjuk SPN (Sekolah Polisi Negara) Bukittinggi untuk membuka "Pendidikan Inspektur Polisi" bagi kaum wanita. Setelah melalui seleksi terpilihlah 6 (enam) orang gadis remaja yang kesemuanya berdarah Minangkabau dan juga berasal dari Ranah Minang, yaitu:

  1. Mariana Saanin Mufti
  2. Nelly Pauna Situmorang
  3. Rosmalina Pramono
  4. Dahniar Sukotjo
  5. Djasmainar Husein
  6. Rosnalia Taher

Ke enam gadis remaja tersebut secara resmi tanggal 1 September 1948 mulai mengikuti Pendidikan Inspektur Polisi di SPN Bukittinggi. Sejak saat itu dinyatakan lahirlah Polisi Wanita yang akrab dipanggil Polwan. Keenam Polwan angkatan pertama tersebut juga tercatat sebagai wanita ABRI pertama di tanah air yang kini kesemuanya sudah pensiun dengan rata-rata berpangkat Kolonel Polisi (Kombes).

Tugas Polwan di Indonesia terus berkembang tidak hanya menyangkut masalah kejahatan wanita, anak-anak dan remaja, narkotika dan masalah administrasi bahkan berkembang jauh hampir menyamai berbagai tugas polisi prianya. Bahkan di penghujung tahun 1998, sudah lima orang Polwan dipromosikan menduduki jabatan komando (sebagai Kapolsek). Hingga tahun 1998 sudah 4 orang Polwan dinaikkan pangkatnya menjadi Perwira Tinggi berbintang satu.

Kenakalan anak-anak dan remaja, kasus perkelahian antar pelajar yang terus meningkat dan kasus kejahatan wanita yang memprihatinkan dewasa ini adalah tantangan amat serius Korps Polisi Wanita untuk lebih berperan dan membuktikan eksistensinya di tubuh Polri. Hingga saat ini juga sudah ada Polwan yang memegang jabatan sebagai Kapolres.




Perwira Tinggi Polwan
Beberapa Polwan yang menyandang pangkat Perwira tinggi
  1. Brigadir Jenderal Polisi (Purn) Jeanne Mandagi, SH (Jabatan terakhir : Kadivhumas Polri)
  2. Brigadir Jenderal Polisi (Purn) Dra. Roekmini Koesoema Astoeti (Jabatan terakhir : - )
  3. Brigadir Jenderal Polisi (Purn) Paula Maria Renyaan Bataona (Jabatan terakhir : Wakil Gubernur Provinsi Maluku 1998-2003)
  4. Brigadir Jenderal Polisi (Purn) Dra. Sri Kusmaryati (Jabatan terakhir : Lemdiklat Polri)
  5. Brigadir Jenderal Polisi (Purn) Dra. Noldy Rata (Jabatan terakhir : Konsultan Ahli Tim Asistensi Bidang Pencegahan BNN (sekarang) )
  6. Brigadir Jenderal Polisi (Purn) Hj. Rumiah Kartoredjo, S.Pd (Jabatan terakhir : Kapolda Banten 2008-2010)
  7. Brigadir Jenderal Polisi Basaria Panjaitan, SH, MH (Jabatan terakhir : Widyaiswara Madya Sespim Polri)
  8. Brigadir Jenderal Polisi Soepartiwi, M.Pd (Jabatan terakhir : Kadiklatsus Jatrans Lemdik Polri)



POLWAN Image Gallery





















Dirgahayu Polisi Wanita, semoga Polwan bisa sebagai pelopor revolusi mental dalam rangka memantapkan soliditas dan profesionalisme polri.

Salam Brigade !!!


Quote from Flag of Our Fathers (2006) opening line:

"every jackass think he know whar war is - especially those who've never been in one... We like things nice and simple, good and evil, heroes and villains... There are plenty of both. most of the time, they are not who we think they are"

"Tiap orang yang sok jago mengira bahwa dia tahu seperti apa perang itu - terutama mereka yang belum pernah ikut di dalamnya... Kita selalu menyukai hal-hal yang baik dan sederhana, baik dan buruk, pahlawan dan penjahat... Ada banyak contoh dari keduanya. Tapi kebanyakan, mereka tidak selalu merupakan apa yang kita pikirkan tentang mereka."

Pesan moralnya :
Tidak selamanya yang baik itu terlihat sempurna. Orang-orang yang melakukan pekerjaanya, mereka tidak mau dianggap sempurna seperti 'dewa' atau 'orang suci' yang tanpa cacat. Mereka juga manusia. Walau berseragam sama, hati berbeda. Dan tidak semua yang mereka lakukan diluar pekerjaannya (kalau dianggap orang baik) sempurna di mata awam. Kesempurnaan cuma milik yang Maha Kuasa. Dan kita cuma 'pemain' di dalam dunia-Nya. Dan jangan pernag mengkritik seseorang 'tidak becus' dalam melakukan pekerjaannya, kecuali kita pernah merasakan seperti apa pekerjaan yang dilakoninya setiap hari.

Sumber : kaskus / danielldt

0 Response to "Dirgahayu Polisi Wanita, Mengenal Sejarah Polwan"