HotCopas.net

Simulation Theory, Karena Kehidupan Hanyalah Ilusi

Ane merasa sudah lama sekali gak posting apa2 di kaskus tercinta ini karena satu dan lain hal, dan merasa bersalah karena itu. Akhirnya ane memutuskan untuk membuka sedikit keaktifan di kaskus dengan membuat thread, yang kali ini mungkin agak susah dimasukkan ke SF SainTek karena berat ke araf filosofi, kontroversial, dan hampir tidak ada ke arah penerapannya (kecuali ke ranah fisika teoritis mungkin). Tetapi bagaimanapun juga, topik inilah yang baru2 ini menggelitik pikiran ane, dan menurut ane sangat layak dibahas di forum ini karena implikasinya sangat besar ke dalam ranah filosofi, fisika teoritis, teknologi, dan futurologi. Mudah2an thread kali ini bisa bermanfaat bagi semuanya.


Siapkah agan untuk memilih pil merah?


Simulation Hypothesis, Bahwa Dunia Ini Hanyalah Simulasi

Apakah agan2 pecinta SainTek semua masih ingat dengan sebuah film yang sangat fenomenal pada akhir 90an, The Matrix? Dalam film tersebut dikisahkan bahwa hampir semua orang di bumi, ternyata menjalani kehidupan sehari2 pada sebuah simulasi dunia di dalam komputer superbesar, sedangkan tubuh aslinya hanya tidur di dalam tabung yang semuanya dikuasai oleh pemerintahan mesin... Sangat menghayal bukan? Tidak mungkin kita hidup hanya dalam dunia komputer, kita bisa melihat, mendengar, menyentuh dan meraba, bahkan mencium bau busuk dari jauh, dan semuanya adalah kenyataan. Nyata, karena kita mengalaminya. 


Akan tetapi, apakah kenyataan itu?

Semua rasa yang masuk ke dalam panca indra kita sejatinya hanyalah pekerjaan otak kita saja menerjemahkan sinyal listrik dan menampilkan semua perasaan kita. Kita tidak perlu melihat secara asli. Asal otak mengatakan bahwa kita melihat, maka kita akan melihat, selayaknya kita melihat cewek cantik, mencium bau parfumnya, dan mengikuti alunan musik untuk berdansa dengannya, di dalam mimpi. Apakah mata kita terbuka saat bermimpi? Tentu tidak, tapi kita tetap bisa melihat, mendengar, dan merasakan semuanya. Ya, semuanya adalah nyata selama kita menganggap itu nyata. Kenyataan ternyata hanyalah sebuah proses perambatan listrik di syaraf otak kita... tidak kurang, tidak lebih.


Kemungkinan kita berada dalam dunia simulasi semacam The Matrix ternyata ada, dan yang mengejutkannya, kemungkinan ini sangatlah tinggi. Dimulai dengan paper ilmiah berjudul "Simulation Argument" yang dijurnalkan pada tahun 2003 oleh Nick Bostrom, seorang profesor filosofi dari Universitas Oxford. Nick Bostrom mengajukan sebuah trilema dengan premis seperti ini (ane terjemahkan dan sedikit mengedit bebas):

Quote:
  1. Jumlah manusia yang mencapai tahap evolusi menjadi post-human/mahluk paska-manusia adalah mendekati nol.
  2. Jumlah peradaban mahluk paska-manusia yang membuat simulasi tentang nenek moyangnya (manusia) adalah mendekati nol.
  3. Jumlah manusia (yang menjalani kehidupan seperti kita) dan merupakan hasil simulasi adalah mendekati satu.

    Jika (1) benar, maka tidak akan ada evolusi yang lebih tinggi dari manusia, alias kita akan punah/kiamat sebelum menjadi mahluk paska-manusia.

    Jika (2) benar, maka ada sebuah konvergensi (mungkin maksudnya kesepakatan antar mereka) yang menyebabkan para mahluk paska-manusia tidak bisa atau tidak mau membuat simulasi tentang kita, entah itu karena mereka kurang bahan, tidak mampu, masalah etika, atau karena lain hal.

    Jika (3) benar, maka hampir merupakan kepastian bahwa kita sekarang hidup dalam sebuah simulasi, di dalam hutan lebat ketidkacuhan kita menjalani hidup ini.


Apa Maksud Simulasi di Sini



The Sims:

Simulasi adalah, sebuah imitasi dari cara kerja dunia nyata yang dijalankan secara langsung/real time. Ane ingin menceritakan simulasi di sini, analog dengan video game, apapun jenisnya. Memang, video games bukanlah imitasi dari dunia nyata, namun merupakan representasi para programer game agar kita, para pemain bisa mengalami secara nyata apa yang terjadi di dunia yang mereka buat. Jadi, simulasi di sini secara gampang adalah sebuah video game yang sangat besar, dibuat oleh Sang Programmer, dengan 10 milyar orang player yang beraktivitas di dalamnya tanpa mengetahui bahwa mereka hidup di dalam sebuah game.



Apakah mahluk paska-manusia itu
 


 Next Stage of Evolution:

mahluk paska-manusia (posthuman) adalah kita, ataupun keturunan kita yang telah melangkah selangkah lebih maju dalam tangga evolusi semesta, sehingga sudah tidak bisa lagi disebut sebagai manusia (Homo sapiens) hal ini, diluar kapan waktunya, bisa (secara teori) kita lakukan sendiri dengan bantuan teknologi. Bagaimana mahluk paska-manusia itu? Sebelumnya kita melangkah setengah langkah mundur dulu untuk membahas transisi dari manusia menjadi paska-manusia, yaitu tahap transhuman/manusia peralihan.

Transhumanism Logo:


Manusia zaman sekarang sudah tidak bisa lepas dengan teknologi, baik itu bioteknologi, nanoteknologi, teknologi digital dan informasi, dan robotika tentunya. Alkisah, pada suatu hari di masa datang manusia sudah melakukan pengembangan teknologi secara canggih di segala bidang. Kehidupan manusiapun sudah sangat tergantung dengan teknologi, mulai dari ketergantungan akan kendaraan yang menyebabkan otot kita lebih lemah dibandingkan manusia sebelum revolusi industri, sampai ketergantungan kita dengan teknologi informasi hingga mengingat alamat rumah atau nomer telepon teman pun harus meminta bantuan smartphone, bahkan mengunjungi mbah google untuk menanyakannya.

Karena ketergantungan dan keefisienan teknologi yang kita gunakan, manusiapun terus mengembangkan teknologi ini sehingga mesin dan teknologinya bisa berpikir sendiri secara mandiri (Kecerdasan Buatan). Maksud Kecerdasan Buatan di sini, kita tidak bisa berpikir langsung meloncat ke seorang terminator yang sedang berburu keluarga Connor, namun bisa kita ibaratkan mesin yang membantu kita mencari makalah (mbah google misalnya), membantu kita mencari jalan ke restoran enak (Mbak Siri misalnya), ataupun Kecerdasan Buatan lainnya di bidang-bidang yang berhubungan.

Kecerdasan Buatan inipun lama kelamaan akan semakin pintar, pada akhirnya akan mendekati dan malah akan melewati level kecerdasan manusia. Pada fase inilah transhuman mulai terbentuk, yang dinamakan fase Singularitas Teknologi. Pada fase ini, manusia akan mencoba menggabungkan kecerdasannya dengan Kecerdasan Buatan dalam level biologis.

Bayangkan sebuah mesin nano dalam peredaran darah yang bisa mengatur kadar oksigen tubuh ketika olahraga, sebuah tulang dari bahan nano yang bisa sembuh dengan cepat ketika patah, atau sebuah chip nano di dalam otak, sehingga kita bisa browsing google langsung dari pikiran, dan bisa email2an alias "telepati" tanpa harus punya komputer dan melihat monitor. Nah, para pakar futurologi sepakat bahwa kehidupan manusia tidak akan bisa ditebak ke mana arahnya jika kita sudah sampai ke fase ini.

Fase inipun akan terus berjalan sehingga kita manusia lama kelamaan akan menjadi mahluk hidup lain, yang bukan manusia dan bukan pula komputer, spesies baru yang kemungkinan akan hidup di dunia digital (bayangkan mengupload otak ke internet, seperti film Transcendence), meninggalkan dunia daging dan tulang. Inilah salah satu bentuk mahluk paska-manusia, karena kemungkinan mahluk paska-manusia bisa mempunyai berbagai macam bentuk, mulai dari full digital (hanya berupa lompatan elektron dan foton berbentuk informasi data yang melayang2 "di awan", alias... mahluk halus), atau mungkin setengah digital seperti cyborg.
 
Seorang Prajurit yang Menjadi "Cyborg":
 

Simulasi Nenek Moyang

Mahluk paska-manusia akan hidup dengan tingkat yang jauh lebih tinggi dari kita sehingga tidak terbayangkan bagaimana kehidupan mereka. Namun, jika mengasumsikan bahwa paska-manusia mempunyai sifat yang mirip dengan manusia, dengan adanya akal dan nafsu, maka kemungkinan mereka akan membuat simulasi tentang nenek moyangnya, entah demi sains, tugas sekolah (kalau memang ada istilah sekolah di kehidupan mereka), atau mungkin hanya sekadar iseng.

Sebetulnya, manusia sendiripun sudah mulai membuat simulasi tentang nenek moyang kita, contohnya adalah banyaknya program komputer Artificial Life seperti (A-Life) untuk menyimulasikan jalannya evolusi kehidupan. Ada kemungkinan, kita adalah simulasi A-Life dari mahluk paska-manusia tanpa kita menyadarinya. Bahkan, ada kemungkinan kita bukanlah A-life berdasarkan evolusi kehidupan mereka pribadi, kita mungkin hanyalah karakter2 video game yang iseng diciptakan, untuk hiburan semata (kalau ada yang pernah main Star Ocean Till The End Of Time sepertinya tahu kira2 bagaimana maksudnya).



Sekarang kembali ke topik. Sebetulnya, seberapa besar kemungkinan kita berada di dunia simulasi? Prof. Nick Bostrom dalam papernya mempunyai rumus untuk menghitung probabilitasnya:

Quote:

P = [fNH]/[H(fN+1)]x100%

P = Persentase probabilitas bahwa kita berada dalam simulasi.
f = jumlah peradaban yang berhasil berubah menjadi transhuman-posthuman (paska singularitas teknologi).
N = Jumlah rata-rata simulasi yang dijalankan oleh mahluk paska manusia.
H = Jumlah rata-rata manusia yang hidup di zaman sebelum mahluk paska-manusia (jumlah manusia sekarang).

Mari kita masukkan asumsi2 tersebut ke dalam angka:

f = kira-kira 1 (1 peradaban yang sanggup saja sudah cukup)
N = 764 (hanya jumlah game yang terdaftar di sini, jadi kemungkinan angka ini sebetulnya sangat sedikit dibandingkan realita)
H = 7,000,000,000 (Populasi dunia sekarang)

P = 99,87%

Itulah probabilitas kita berada dalam dunia simulasi.
(CMIIW)


Wow, kemungkinan yang sangat besar bukan?



Lalu, Apa Gunanya Informasi Ini Bagi Kita?

Ya, ane mengakui sebetulnya tidak ada implikasi apa2 kalau saja hidup hanyalah simulasi dan ilusi semata, yang kerja tetap bekerja, yang sekolah tetap sekolah, yang ngaskus pun tetap ngaskus, hanya mungkin saja beberapa agan akan mengalami perubahan sudut pandang melihat dunia. Tetapi, sebetulnya banyak sekali hal yang bisa terjawab jika saja dunia ini adalah sebuah simulasi, antara lain:


  • Interpretasi Copenhagen adalah benar, si kucing dalam kotak memang 50% hidup dan 50% mati, kenapa?
    Jika kita mengasumsikan semua ini adalah sebuah simulasi game, berarti kita bisa juga mengasumsikan bahwa prinsip2 yang ada di dalam video game juga berlaku di dunia "nyata" kita, misalkan tentang draw distance, yaitu jarak di mana mesin rendering menggambar pemandangan, jika lebih jauh dari draw distance, maka pemandangan tidak akan digambar, karena belum dirender. Ini juga berlaku ketika kucing di dalam kotak, kita sebagai pengamat di luar kotak bisa berpendapat, bahwa kucing tidak dirender mesin, karena tidak terlihat.
  • Dunia paralel memang ada.
    Jika kita semua adalah simulasi, kemungkinan besar ada simulasi lain tentang kita, yang melakukan hal yang berbeda.
  • Jawaban dari Fermi Paradox, mengapa kita hanya sendirian di planet bumi, padahal alam semesta sebegitu luasnya.
    Karena ini adalah simulasi tentang kita, manusia, untuk apa menciptakan hal yang tidak penting seperti alien? Contohnya saja, kalau kita membuat video games tentang peri, elf, dwarves, dan naga, tentu kita gak usah capek menciptakan karakter lain seperti orang biasa dengan jas, dasi, membawa tas kerja, dan kerjaannya hanya mengetik Microsoft Excel kan? Sangat tidak menarik. Dan, ini juga menjelaskan kenapa tidak ada buah belimbing di game Harvest Moon.
  • Alam itu terbatas/finite.
    Kalau memang kita berada di dalam simulasi, ini berarti kita berada di dalam komputer super besar dan canggih, dan batasan alam adalah batasan spesifikasi komputer yang menjalankan kita semua.


Sebetulnya masih banyak lagi yang bisa dijelaskan dengan adanya hipotesis ini, tinggal ubah sudut pandang dan gabungkan ilmu pikiran antara fisikawan dengan programer komputer, maka jawaban akan banyak hal (bahkan hampir semua hal yang masih menjadi misteri), mungkin akan terjawab.



Pembuktian Hipotesis


Bagaimanapun juga, dunia adalah simulasi masih merupakan sebuah hipotesis yang perlu diuji agar naik ke tahap teori, ada kemungkinan hipotesis ini tidak akan pernah beranjak dari statusnya, dan hipotesis ini bakalan gagal menjadi hal yang satu tingkat lebih ilmiah (sebagai teori ilmiah). Namun ternyata, beberapa ilmuwan dari University of Washington mengklaim mempunyai cara untuk mengetes hipotesis ini. Metode yang dilakukan ilmuwan dalam fisika kuantum salah satunya adalah "lattice quantum chromodynamics" yang mana merupakan sebuah simulasi alam semesta untuk mengetest teori quantum chromodynamic.

Dalam mengetest menggunakan lattice quantum chromodynamics, meskipun ilmuwan sudah menggunakan supercomputer, ternyata hanya sedikit bagian alam (hanya yang signifikan ke eksperimen saja) yang bisa disimulasikan karena keterbatasan kemampuan komputer. Nah, kalau dengan perhitungan yang sama dengan Lattice QCD kita bisa menghitung sinar cosmis yang menerpa bumi (bagian dari alam semesta), serta menemukan hitungan yang sama persis dengan perhitungan Lattice QCD (yang merupakan simulasi buatan manusia), berarti kita sudah menemukan bahwa "komputer besar" buatan mahluk paska-manusia juga mempunya kendala keterbatasan kemampuan, dan membuktikan bahwa kita "mungkin" memang hidup di dalam simulasi.

Apakah eksperimen menghitung sinar kosmis ini sudah dilakukan? Sepertinya belum, dan kemungkinan belum dilakukan karena bukan prioritas ataupun karena keterbatasan dana, entah sampai kapan kita harus menunggu pembuktian ini (atau gak perlu ditunggu, toh gak ada manfaatnya juga).


Penutup

Semoga thread ane kali ini bermanfaat bagi kaskuser semua, dan mudah2an akan ada diskusi yang menarik tentang hal ini. Demikianlah awal dari thread pendek ane yang tidak sempurna ini, jika ada kritik, saran, ataupun sekadar bertanya, akan ane coba menjawabnya sesuai dengan pemahaman ane. Terima kasih atas perhatian kaskuser semuanya.


Sumber : kaskus / feniks.kelabu

0 Response to "Simulation Theory, Karena Kehidupan Hanyalah Ilusi"