HotCopas.net

Inilah 5 Tokoh Baru yang Jadi Pahlawan Nasional


Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan tanggal 10 November 2015, Presiden Joko Widodo memberikan gelar pahlawan pahlawan nasional kepada 5 tokoh yang telah dianggap berjasa besar bagi Bangsa Indonesia. Jokowi mengeluarkan Keppres Nomor 116/TK/ Tahun 2015.

Adapun 5 tokoh yang diberi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Jokowi di antaranya almarhum Bernard Wilhem Lapian (Tokoh Provinsi Sumatera Utara), almarhum Mas Isman (Tokoh Provinsi Jawa Timur), dan almarhum Komjen (Pol) Dr H Moehammad Jasin (Tokoh Jawa Timur). Kemudian almarhum I Gusti Ngurah Made Agung (Tokoh Provinsi Bali) dan almarhum Ki Bagus Hadikusumo (Tokoh Provinsi Yogyakarta).

Pemberian gelar pahlawan nasional dilaksanakan di Istana Negara oleh Presiden Jokowi. Karena sudah almarhum, yang menerima gelar adalah ahli waris masing-masing.

Siapa sajakah mereka? Ini rangkumannya:




1.Bernard Wilhem Lapian


Bernard Wilhelm Lapian adalah tokoh pejuang dan gubernur kedua di Provinsi Sulawesi. Dia pernah bekerja di Batavia dan menulis di surat kabar Pangkal Kemadjoean. Dalam tulisan itu, dia mengendepankan nasionalisme untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kolonialisme.

Semasa pendudukan Jepang, Lapian pernah menjadi Gunco (Kepala Distrik) dan pada 1945 menjadi Wali Kota Manado. Kekalahan yang dialami Jepang membuat negeri Matahari Terbit tersebut menyerahkan kedaulatannya kepada pemuda Indonesia, atas alasan itu mereka menolak mengembalikan kekuasaan kepada Nederlandsch Indie Civil Administration (NICA).

Akibat sikapnya itu, dia dijebloskan ke penjara Teling, Manado. Dia juga yang mendirikan institusi gereja yang lepas dari pemerintahan Belanda yang diberi nama Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM).

Saat revolusi berlangsung, dia menjadi pimpinan sipil yang berperan besar pada momen heroik Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado. Karena ketokohannya, dia dipercaya untuk menjabat sebagai Gubernur Sulawesi pada tahun 1950 sampai dengan 1951, yang berkedudukan di Makassar.




2.Mas Isman


Mas Isman adalah pendiri organisasi pelajar bersenjata pada 30 Agustus 1945 untuk mengangkat senjata melawan penjajah Belanda. Dia dan pasukannya dilatih oleh Sungkono di Sekolah Darmo-49 Surabaya, serta ditunjuk menjadi komandannya.

Perjuangan mereka dimulai sejak 9 November 1945, dengan slogan 'Soempah Keboelatan Tekad' untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dari tangan penjajah. Setelah era perang kemerdekaan, dia mendirikan Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) pada 1957.

Mas Iman dilahirkan pada 12 Desember 1924 dan wafat 12 Desember 1982. Dia memiliki enam anak, yakni Edi Isman, Hayono Isman, Hayani Isman, Maulana Isman, Ananda Isman dan Ininda Isman.




3.Komjen (Pol) Dr H Moehammad Jasin


Dia dikenal sebagai Bapak Brimob, atau kependekan dari Brigade Mobile. Sikapnya yang keras membuat sosoknya begitu dihormati oleh kawan dan ditakuti lawan.

Pertempuran pertamanya dimulai saat menundukkan sebuah benteng Jepang di Semarang. Dengan penuh keberanian, dia menerobos tembakan peluru dan meminta agar balatentara Jepang menyerah kepada rakyat Indonesia.

M Jasin dan pasukannya juga sangat berperan dalam pertempuran 10 November. Jasin juga yang berhasil menangkap Mayor Sabarudin yang bikin takut warga Surabaya dan sekitarnya karena sering bikin teror.

Jasin merupakan satu dari sedikit perwira polisi yang dididik Marinir AS. Dia berjasa besar mengembangkan kepolisian dan membela kemerdekaan.




4.I Gusti Ngurah Made Agung


Perjuangannya melawan penjajah membuat Pemerintah Bali mengabadikannya sebagai patung di perempatan Jalan Veteran Denpasar-Jalan Pattimura, Denpasar. Lokasi ini dipilih karena berada paling dekat dengan Lapangan Puputan Badung, tempatnya gugur saat bertempur pasukan penjajah.

Dalam catatan sejarah, pertempuran Puputan Badung berlangsung 109 tahun lalu, saat itu I Gusti Ngurah Made Agung menjabat sebagai Raja Denpasar VII (1902-1906). Saat gugur, usianya masih 30 tahun dan berstatus lajang. Dia lah yang memimpin perlawanan rakyat Badung melawan agresi militer Belanda yang saat itu mendarat di Pabean Sanur, Denpasar Selatan.

Selang 109 tahun setelah dia gugur di medan perang, I Gusti Ngurah Made Agung dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional. Penobatan ini harus menunggu selama 7 tahun sejak diusulkan pada 2008 silam.




5.Ki Bagus Hadikusumo


Ki Bagoes Hadikoesoemo adalah seorang tokoh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dia dilahirkan pada 1890 dengan nama R Hidayat dan meninggal saat berusia 63 tahun.

Dia memperoleh pendidikan dari sekolah rakyat dan pendidikan agama di pondok pesantren tradisional Wonokromo Yogyakarta. Kemahirannya dalam sastra Jawa, Melayu, dan Belanda didapat dari seorang yang bernama Ngabehi Sasrasoeganda, dan Ki Bagus juga belajar bahasa Inggris dari seorang tokoh Ahmadiyah yang bernama Mirza Wali Ahmad Baig.

Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadijah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Dia sempat aktif mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Setambul. Bersama kawan-kawannya, ia mendirikan klub bernama Kauman Voetbal Club (KVC), yang kelak dikenal dengan nama Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW).

Tahun 1937, Ki Bagus diajak oleh Mas Mansoer untuk menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Lima tahun setelah itu, KH Mas Mansur dipaksa Jepang untuk menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga Rakyat), dan Ki Bagus menggantikan posisi ketua umum yang ditinggalkannya hingga 1953.

Selama memimpin Muhammadiyah, dia turut ambil bagian sebagai anggota BPUPKI dan PPKI. Ki Bagus Hadikusumo punya peranan besar dalam perumusan Muqadimah UUD 1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan. Pokok-pokok pikirannya dengan memberikan landasan-landasan itu dalam Muqaddimah UUD 1945 itu disetujui oleh semua anggota PPKI.

Selain aktif di organisasi, Ki Bagus juga membuat karya tulis, antara lain Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. Karya-karyanya yang lain yaitu Risalah Katresnan Djati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka Iman (1954).





Sumber : kaskus / imanine9

0 Response to "Inilah 5 Tokoh Baru yang Jadi Pahlawan Nasional "