HotCopas.net

Ketika "Teman Dekat" menjadi "Musuh Menakutkan" bagi Amerika Serikat


Sebagai negara adidaya, Amerika Serikat memiliki banyak sekutu di dunia. Mereka umumnya adalah negara-negara yang senang diajak kerja sama, baik dalam bidang ekonomi, maupunj militer. Sekutu-sekutunya yang paling dekat adalah negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), negara-negara Timur Tengah, maupun negara-negara anggota Persemakmuran Inggris.

Dan karena kedigdayaan Amerika itulah, tidak jarang ada negara-negara yang kontra dengannya. Salah satunya yaitu sekutu abadi Amerika Serikat, yaitu Uni Soviet. Umumnya, perselisihan antara Amerika Serikat dengan beberapa negara di dunia ini tidak lain adalah perbedaan pandangan terhadap suatu hal. Misalnya ketika Amerika Serikat dengan Federasi Rusia berselisih mengenai penyelesaian konflik Suriah pada sidang PBB.

Namun, ternyata ada 5 negara di dunia ini, yang pada awalnya merupakan sekutu Amerika, kini justru menjadi musuh yang menakutkan bagi Amerika Serikat. Berikut ini adalah negara-negara yang dahulunya teman dekat, kini menjadi negara yang anti-amerika





VENEZUELA
("REINKARNASI" SIMON BOLIVAR DAN BERSATUNYA NEGARA-NEGARA AMERIKA LATIN)




Ketika krisis yang mencekik Venezuela pada tahun 1990-an, seorang perwira tampil sebagai seorang revolusioner yang mengubah wajah Venezuela 180 derajat. Revolusioner itu berhasil membawa Venezuela menjadi negara yang berpengaruh di Amerika Selatan.

Dahulu, Venezuela adalah mitra terbaik Amerika Serikat. Bisnis minyak Venezuela menjadi penapatan utama bagi negara di Amerika Selatan ini. Amerika Serikat pun merasa puas dengan investasi mereka di sana. Sampai suatu ketika, saat seseorang bernama Hugo Chavez naik menjadi Presiden Venezuela, ia mengubah negara ini dari negara neo-liberal menjadi negara sosialis melalui apa yang ia sebut "Sosialisme Abad-21". Chavez mulai memperbaiki perundang-undangan di negaranya, dan menasionalisasi aset-aset seperti kilang minyak dan pabrik -pabrik di Venezuela. Ia merombak total negara itu sehingga berhasil mengurangi angka kemiskinan, pengangguran, dan meningkatkan kualitas masyarakatnya.

Pada tahun 2002, orang-orang berkumpul di Caracas, dengan mengenakan pakaian yang mahal dan bagus. Mereka menuntut Hugo Chavez untuk mundur dari jabatannya sebagai presiden. Di sisi lain, ada sekelompok orang datang dengan pakaian yang murah dan lusuh, orang-orang miskin, menghadang mereka dan meminta agar Hugo Chavez bertahan pada posisinya. Namun, takdir berkata lain. Pada akhirnya, Hugo Chavez berhasil dikudeta dan ditangkap oleh para demonstran anti-Chavez

Sayangnya, demonstrasi ini justru berujung pada pertikaian yang bahkan membawa dua kelompok demonstran itu saling baku tembak di jalanan. Hingga akhirnya, para demonstran yang mendukungnyai membebaskannya dari penjara. Kemudian, Chavez menuduh bahwa Amerika Serikat berada di balik kerusuhan ini. Ia pun menyatakan sikap anti-amerikanya dan menyebut presiden George W.Bush sebagai "setan".

Sosialisme di Amerika latin ternyata memiliki efek domino, sama seperti runtuhnya komunisme di Eropa Timur. Perlahan tapi pasti, sosialisme kian menjalar ke negara-negara tetangga, seperti Bolivia, Ekuador, dan Brazil. Bahkan, Venezuela mendirikan apa yang disebut sebagai "Bank Selatan", sebuah tandingan dari IMF.




KUBA
(KETIKA RAKYAT BERSATU MELAWAN KEDIKTATORAN BATISTA)



Sebelum revolusi, Kuba adalah salah satu barikade utama Amerika Serikat. Oleh karena itu, Amerika hendak menjadikan Kuba sebagaik negara satelitnya untuk wilayah-wilayah karibia. Namun, harapannya itu seketika buyar saat terjadi suatu revolusi yang duikenal dengan "Revolusi Kuba". Sekelompok revolusioner yang dipimpin oleh Fidel Castro dan Che Guevara, hendak menggulingkan rezim boneka di Kuba, yaitu rezim yang dipimpin oleh sang presiden Fulgencio Batista.

Setelah hampir 3 tahun bergerilya di Kuba, Fidel Castro berserta para pengikutnya berhasil menggulingkan kekuasaan Batista. Castro pun dibai'at menjadi presiden. Sebenarnya, pada awalnya Castro pernah berkata bahwa “... bertentangan dengan pola Revolusi Rusia dan model Marxis bahwa di Kuba tidak berdasarkan perjuangan kelas. Revolusi Kuba juga tidak berniat meniadakan kepemilikan swasta.” Namun, lambat laun, Castro yang sering meneriakkan slogan "sama rata sama rasa" menimbulkan kecurigaan Amerika Serikat bahwa rezim Castro adalah rezim komunis. Seperti saat pemerintahan Castro yang mendirikan rumah sakit khusus untuk orang-orang miskin. Hingga akhirnya, Amerika memutuskan hubungan bilateral dengan Kuba pada tahun 1961. Castro pun kecewa dan menilai bahwa slogan "kebebasan dan kemandirian" yang sering diserukan Amerika, adalah slogan palsu. Kuba pun mulai mengambil sikap bermusuhan dengan Amerika Serikat dan mendekati blok Uni Soviet.

Di bawah rezim sosialnya, Kuba berhasil menjadi negara yang berhasil mensejahterakan rakyatnya, bahkan mungkin lebih mandiri daripada DPR Korea. Salah satu prestasi Castro yang paling mentereng selama menjabat sebagai presiden adalah membabat habis buta huruf. Percaya atau tidak negara ini 99,8 % terbebas dari buta aksara. Hal ini disebabkan karena Castro begitu perhatian dengan pendidikan. Sekolah-sekolah ia gratiskan, bahkan ia juga menyuruh para guru untuk mendatangi murid yang ingin belajar. Salah satu kehebatan lainnya adalah kualitas kesehatannya yang luar biasa. Bahkan, negara sekaliber Inggris pun harus gigit jari melihat kehebatan negara "seharusnya" miskin ini. Selain itu, meski diembargo berkali-kali, meski dunia diterjang krisis besar pada akhir 1990-an, Kuba tetap berdiri tegak sebagai satu-satunya negara sosialis di benua Amerika, pada saat itu.



IRAN
(BERSATUNYA ULAMA' MENENTANG SEKULARISME DI PERSIA)


Sebelumnya, Amerika Serikat hendak menjadikan Iran sebagai negara satelitnya di Timur Tengah selain Israel. Iran dinilai strategis untuk dijadikan sebagai sekutu karena letaknya yang berbatasan dengan Uni Soviet, sehingga bisa membendung arus komunisme ke Timur Tengah. Shah Reza Pahlavi, adalah seorang shah (raja) yang kebijakannya sangat menguntungkan Amerika. Ia gencar melakukan modernisasi di Iran dan sering menjalin kerjasama bisnis dengan Amerika. Selain itu, shah menerapkan tatanan masyarakat sekularisme di Iran. Shah berfikir, dengan meninggalkan agama dan beralih ke sekularisme, Iran bisa menjadi negara yang kuat sebagaimana halnya yang terjadi di Turki.

Namun, sekularisme yang digembor-gemborkan rezim Pahlavi mendapat kecaman dari kalangan ulama. Yang paling getol menentang rezim Shah adalah Ruhollah Khomeini - yang kelak akan menjadi Ayatullah (pemimpin agung) pertama Iran. Mendengar ocehan Khomeini, Shah membuangnya ke Prancis. Di pengasingannya di Prancis, beliau malah tidak jera. Imam Khomeini terus menuliskan berbagai opini dan gagasannya, yang kemudian diselundupkan secara diam-diam ke Iran. Rakyat pun akhirnya mulai bangkit menentang rezim Pahlavi.

Di saat rakyat melarat hingga tak terkira, di saat angka kemiskinan rakyat Iran kian meningkat, Shah Pahlavi justru hidup bergelimang harta di dalam Istana. Hal ini membuat rakyat Iran semakin marah. Akhirnya, rakyat pun turun ke jalan melawan Shah Pahlavi. Bahkan sering terjadi tawuran antara rakyat dengan tentara. Pada awal Februari 1979, Shah Reza Pahlavi berencana liburan keluar negeri untuk menenangkan diri, hingga suasana benar-benar kondusif. Beberapa hari kemudian, Imam Khomeini kembali dari pengasingannya di Prancis. Kedatangan Imam Khomeini pun disambut suka cita oleh seluruh rakyat Iran. Selanjutnya, Imam Khomeini dibai'at menjadi pemimpin agung pertama Republik Islam Iran dengan nama "Ayatulloh Khomeini".

Kebijakan pertama Ayatulloh Iran adalah mengusir Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran. Hal ini didasarkan pandangannya yang menganggap Shah adalah boneka Amerika. Selain itu, Ayatollah Khomeini juga mulai memberlakukan hukum islam di berbagai aspek kehidupan. Meskipun begitu, Ayatollah tetap melakukan modernisasi di Iran, seperti alusista persenjataan, teknologi komunikasi, dan lain-lain. 


 TIONGKOK
(RAKSASA KOMUNISME DARI ASIA TIMUR)



Saat mengundurkan diri dari Presiden Sementara Republik Tiongkok, dr.Sun Yat Sen sebenarnya sudah berpesan kepada para pemimpin dunia agar menghargai Republik Tiongkok sebagai negara yang berdaulat. Setelah posisinya digantikan oleh Chiang Kai Shek, Tiongkok menjalin kerjasama dengan Amerika Serikat, seperti dalam hal ekonomi maupun militer. Hubungan Tiongkok dengan Amerika pun makin dekat saat Jepang menginvansi Tiongkok pada tahun 1930-an. Amerika pun dengan cepat memberikan embargo kepada Jepang. Meskipun hanya sebatas mitra kerjasama, hubungan Amerika Serikat dengan Tiongkok saat itu cukup akrab.

Pada saat perang dunia kedua selesai, terjadi perang saudara antara pemerintah Tiongkok dengan Partai Komunis Tiongkok, yang pada akhirnya kelompok komunis pimpinan Mao Zedong berhasil merebut kendali atas dataran Tiongkok (silakan baca thread ane sebelumnya). Mao membawa Tiongkok bergerak menuju klub komunisnya Uni Soviet. Bahkan, setelah kaum borjuis/kaum kapitalis diberi angin segar lagi di Tiongkok setelah Deng Xiaoping berkuasa, Tiongkok masih saja menjaga jarak dengan Amerika Serikat, hinggat saat ini. 




FEDERASI RUSIA
(BANGKITNYA BERUANG MERAH DI BAWAH MANTAN INTELEJEN UNI SOVIET)



Setelah Uni Soviet runtuh, Rusia, di bawah Boris Yeltsin, menjadi "hamba" bagi Amerika Serikat. Yeltsin kerap membuat kebijakan yang pro terhadap Amerika Serikat. Bahkan, perekonomian Rusia benar-benar menyedihkan. Tentara pun pernadigaji hanya dengan sayur sayuran. Sementara pemerintah terus mengemis kepada Amerika Serikat.

Namun, semenjak para mantan KGB - intelejen Uni Soviet - menduduki kursi pemerintahan, Rusia bangkit menjadi sebuah kekuatan besar di dunia. Di bawah Vladimir Putin dan Dmitry Medvedev, Rusia menjadi negara yang yang ditakuti oleh negara-negara barat. Pada awalnya, naiknya Putin menjadi presiden masih diremehkan oleh Amerika dan sekutunya. Bahkan, kanselir Jerman menyebut Putin sebagai "negarawan bau kencur".

Namun, di luar dugaan, Rusia justru kembali bangkin sebagai pesaing baru Amerika Serikat. Intervensi Rusia di beberapa negara seperti di Irak dan Suriah menjadi momok menakutkan. Selain itu, bangkitnya ekonomi Rusia menjadi 10 besar di dunia memberi ketakutan kedua kepada Amerika. Mereka khawatir bahwa "Uni Soviet" yang baru telah lahir. Dan dunia akan terseret ke dalam "Perang Dingin II", bahkan mungkin "Perang Dunia III".




Sumber : kaskus / czechssr

0 Response to "Ketika "Teman Dekat" menjadi "Musuh Menakutkan" bagi Amerika Serikat"