HotCopas.net

PKI - Kan Saja !



Mereka yg alami masa pemerintahan orde baru tentu paham dg istilah di PKI-kan. Bahkan dlm kehidupan sehari-hari sering kita temui. Ketika orang berkelahi, selain mengeluarkan bahasa kebun binatang mereka juga kerap menuduh lawan berkelahinya sebagai PKI! Jadi PKI yg merupakan singkatan dari Partai Komunis Indonesia itu telah berubah menjadi salah satu cacian bagi masyarakat kita.

Mengapa fenomena ini terjadi? Panjang ceritanya, tapi bs dikatakan bahwa tuduhan PKI adlh senjata pamungkas yg efektif dan mematikan! Di awal berkuasanya orde baru, cukup dg dituduh sebagai PKI saja bisa membuat hidup seseorang berubah 180 derajat. Tak penting pihak yg dituduh itu benar2 terlibat PKI atau sekedar korban fitnah, yang pasti dampaknya nyata bagi si tertuduh. Tak jarang mrk yg sama sekali tdk bersalah menemui ajal, keluarganya tercerai berai, istrinya diperkosa hanya krn tuduhan sepihak tsb.

Tak ada proses hukum bagi mereka yg di PKI-kan. Mereka langsung diperlakukan layaknya bukan sebagai manusia. Itulah jaman dimana fitnah berkuasa di atas bumi pertiwi ini. Itulah jaman dimana rasa ketakutan dan teror menguasai hidup manusia. Untuk bisa ikut merasakan bagaimana perihnya penderitaan orang2 tak bersalah tsb, maka kami akan tunjukkan contohnya satu persatu. Kultwit ini adlh tentang kisah2 tragis saudara2 kita yg tidak tahu apa2 tp kehidupannya harus hancur lebur akibat fitnah dari sesamanya.

Kultwit ini adalah sejarah bagaimana persatuan bangsa ini pernah dipecah-belah dan dicabik-cabik dg teror dan pembunuhan.

YAHYA, tukang cukur dari Bawen – Semarang

Yahya adalah seorang tukang cukur yg menjadi anggota PNI front marhaenis. Dia sama sekali bukan anggota PKI, dia Soekarnois. Pasca peristiwa G30S Yahya tiba2 mendpt surat panggilan ke kodim. Sbg orang yg tidak tahu apa2 Yahya datang saja memenuhi panggilan tsb. Di kantor Yahya disuruh duduk oleh seorang tentara. Baru sejenak dia duduk sudah ditegur oleh tentara lainnya.... “Buat apa kamu duduk disitu? Sana naik ke atas truck!” Perintah seorang tentara kpd Yahya. “Lah mau kemana pak?” tanya Yahnya. “Wis, pokoke nurut!” hardik tentara tersebut. Yahya terpaksa ikut naik truck bersama rombongan

Rupanya Yahya dibawa ke Beteng (penjara) di Ambarawa. Dan selama satu tahun lebih dia harus mendekam disana tanpa ada pemeriksaan apapun. Lewat satu tahun barulah Yahya dipanggil utk diproses. Dan terjadilah percakapan yang sungguh aneh tapi nyata ini:
P (Petugas): “Saudara mengapa disini?
Y (Yahya): “Lha ndak tahu pak, saya dapat surat panggilan lalu tiba2 nginep disini setahun ini”
P: “Saudara anggota PKI?”
Y: “Bukan pak, saya PNI Front Marhaenis”
P: “Masa kalau bukan PKI saudara bisa ditawan disini?”
Y: “Lha saya bukan PKI pak, saya juga ndak tahu kenapa dipanggil dulu itu”
P: “Lha nyatanya saudara itu ditahan disini, berarti PKI”
Y: “Saya buka PKI, saya PNI, saya nderek Bung Karno”
P: “Moso PKI kok bisa masuk penjara?”
Y: ......??

Percakapan diatas mungkin tidak masuk di akal kita saat ini, bahkan terkesan lucu. Tapi itulah yg terjadi terhadap Yahya. Dan bagi Yahya itu sama sekali tidak lucu, karena akibat kekonyolan tersebut begitu nyata menghancurkan hidupnya. Saat memenuhi surat panggilan tsb, istri Yahya sedang mengandung anak ketiga mrk. Anak pertama umur 2 tahun, anak kedua umur 1 tahun. Selama Yahya ditahan istrinya melahirkan anak mereka yg ketiga. Meski tanpa didampingi sang ayah, si anak lahir sehat. Namun ketidak jelasan nasib suami serta sikap sinis para tetangga rupanya membuat istri Yahya sering melamun sendiri.

Belum lagi keharusan menghidupi tiga anak yg masih kecil2 tanpa kehadiran suami yg selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga. Mungkin tak kuat dg beban yg harus ditanggungnya itu, suatu saat sang istri tercinta nekad terjun ke dalam sungai. BUNUH DIRI...

Malang nian nasib anak2 mereka. Bayi yg ditinggal ibunya itu akhirnya ikut meninggal krn tidak lagi mendapat susu sang ibu. Kedua kakak si bayi yg masih balita itupun bagai itik kehilangan induknya. Mereka terpaksa tercerai berai nunut kerabat yg kasihan. 1,5 tahun Yahya ditahan. Setelah dibebaskan, meski tdk bersalah tp KTP-nya diberi tanda eks tapol yg membuatnya tidak bisa cari kerja

WAKIJAN, petani miskin dari Hargorojo – Purworejo

Wakijan adalah petani buta huruf yang tidak pernah ikut menjadi anggota atau simpatisan organisasi apapun. Suatu saat Wakijan dipanggil ke Kodim Purworejo. Disana Wakijan disiksa disuruh mengaku sebagai anggota PKI. Bukti yg memberatkan adalah karena laporan tetangga sok tahu perihal adanya lobang bekas sumur tua di samping rumahnya. Setengah mati wakijan mencoba meyakinkan petugas bahwa sumur itu sudah ada sejak dia berumur 10 tahun

Namun tentara menganggap lobang di samping rumah wakijan tsb mirip dg lobang buaya tempat mengubur para jendral di Jakarta. Karena tak 'kooperatif', akhirnya wakijan disiksa dg bilah bambu hingga bambunya hancur dan wakijan tak bisa bangun selama seminggu. Karena tak kuat menahan siksaan fisik yg terus menerus akhirnya Wakijan terpaksa mengakui tuduhan petugas. Akibatnya Wakijan dibuang ke Pulau Buru selama belasan tahun dan dikucilkan tetangga sebagai eks tapol sesudah bebas.

IBU NONA, petani buruh dari Kabupaten Semarang

Ibu Nona adalah ibu rumah tangga biasa yg tidak pernah menjadi anggota atau simpatisan PKI atau underbouwnya. Untuk membantu penghasilan suami yg bekerja sbg guru SMP ibu Nona bekerja menjadi buruh tani. Prinsipnya, "ora ubet ora ngliwet". Kebetulan ibu Nona berparas cantik dan pandai menyanyi sehingga sering dipanggil utk mengisi acara pesta2 keluarga. Saat perjalanan ke Ambarawa andong ibu Nona melewati kantor kecamatan. Krn disana ada tetangganya mk ibu Nona memutuskan utk mampir.

Niat baik ibu Nona hendak mengajak pergi bareng tetangganya itu rupanya mejadi keputusan yg akan disesali sepanjang hidupnya. Tanpa alasan yg jelas ibu Nona tidak diperbolehkan meninggalkan kantor kecamatan oleh para tentara yg ada di kantor kecamatan tsb. Selanjutnya ibu Nona begitu saja diangkut truck ke kantor Polisi. Di kantor Polisi ibu Nona mulai menjalani interogasi. Merasa tidak pernah ikut organisasi apapun ibu Nona menolak tuduhan petugas yg memaksa dirinya sebagai Gerwani.

Memang saat itu ibu Nona tidak mendapat siksaan fisik secara langsung, namun siksaan lebih mengerikan sebagai wanita sedang menunggunya. Setelah itu ibu Nona dibiarkan begitu saja di kantor polisi. Dia hanya mendapat jatah satu cangkir jagung untuk makan sehari. Dasar wajah ibu Nona terbilang cantik maka disana dia pun “diruwet” petugas secara bergiliran. “diruwet” adalah istilah utk disetubuhi. Disana ibu Nona hanya ditahan selama tujuh bulan lalu dibebaskan untuk pulang ke rumahnya. Namun siksaan rupanya tidak berakhir. Sebagai orang yg pernah di PKI-kan ibu Nona sudah kehilangan haknya sebagai manusia.

Paras cantik Ibu Nona adalah kutukan bagi dirinya di masa itu. Suaminya ‘dihilangkan’ agar mereka bisa menikmati tubuh sang istri. Setiap saat ada tamu datang, entah dari tentara, kecamatan atau petugas lain ibu Nona sealu harus bersedia “diruwet”. Bulan Juni 1966 Ibu Nona dimasukkan lagi ke kantor polisi, istilahnya dititipkan. Spt biasa, disinipun dia “diruwet” secara bergiliran. Akibatnya ibu Nona terpaksa harus mengandung janin hasil “diruwet” tsb. Apa daya ibu Nona tak berhak meminta pertangggung jawaban.

Ingin menjerit rasanya ibu Nona tatkala salah satu pelaku menanyakan ttg kehamilannya tanpa rasa bersalah: “Dg siapa kamu melakukan?”. Namun sebagai korban “tersangka” PKI ibu Nona bukanlah manusia lagi. Dia hanya boleh menerima nasibnya tanpa protes. Sama seperti korban2 tak bersalah lainnya, hingga saat ini ibu Nona tidak kunjung menemukan jawaban mengapa dia bisa dituduh PKI.

HARDI, petani miskin dari Purwodadi

Hardi ditahan pada bulan November 1965 karena tuduhan memiliki senjata api dan ada lobang di sebelah rumahnya. Meskipun tuduhan tersebut tidak pernah terbukti namun akhirnya Hardi harus dibuang ke Pulau Buru. Baru sepuluh tahun kemudian Hardi dibebaskan. Sesampainya di rumah, ia begitu terpukul melihat keadaan keluarganya. Kedua buah hatinya yg ketika dia ditangkap masih berusia tujuh dan empat tahun harus mencari nafkah sendiri. Ibu mereka meninggal karena penderitaan yg luar biasa akibat harus melayani banyak lelaki secara bergiliran. Malam ini hrs melayani ketua RT, malam berikutnya dipanggil pak Lurah, baru pulang besok siangnya sdh hrs melayani tentara yg datang.

Belum terhitung guru, anggota ormas pemuda, nasionalis dan agama yg ikut menagih 'jatah' dr istri Hardi. Sebagai istri orang yang di PKI-kan dia tidak lagi memiliki hak apapun, termasuk hak terhadap tubuhnya sendiri!. Istri Hardi sering mengeluh: “Piye, awakku wis kadhung koyok ngene, apa bojoku gelem mbaleni meneh apa ora?”. Karena tekanan batin akhirnya istri Hardi sakit-sakitan dan meninggal secara menyedihkan meninggalkan kedua anaknya yg masih kecil. Ironis, kedua anak Hardi yg masih balita itu seringkali hrs meminta belas kasihan orang2 yg pernah memperkosa ibunya demi makan sehari2.

Sepulang dari Pulau Buru, Hardi sering berpapasan dg para tetangga yg ikut mencicipi istrinya. Sedikitpun mereka tak merasa bersalah. Meski tak pernah terbukti terlibat PKI namun cap PKI sudah menghilangkan hak-hak Hardi sebagai manusia. Banyak diantara mereka yg dituduh PKI adalah orang yg tidak ada sangkut pautnya dg PKI sama sekali. Sebagian yg dituduh lalu dihukum tanpa proses yg jelas itu justru para pendukung setia atau orang2 yg pernah berhubungan dg Soekarno. Salah satunya adalah NANI, penyanyi kesayangan Bung Karno. Mmg tiap Bung Karno bermalam di Cianjur Nani sering diundang utk bernyanyi.

Karena makin terkenal suatu ketika Nani diuandang untuk nyanyi mengisi acara ulang tahun PKI di cianjur pd Juni 1965. Mungkin karena pernah nyanyi di acara ulang tahun PKI inilah pada suatu malam rumah Nani digedor CPM dan diminta ikut ke markas. Setelah ditangkap, Nani dijebloskan ke penjara Bukit Duri, Jakarta Selatan, tanpa proses peradilan sama sekali. Meskipun Nani bukan anggota Lekra apalagi PKI, namun dia tetap ditahan krn pernah mengisi acara ulang tahun PKI itu. Padahal dalam acara tsb hadir pula Bupati dan Dandim. Namun tetap saja Nani yg bukan PKI itu di PKI-kan.

Selama tujuh tahun ia tidur di atas dinginnya beton penjara yang banyak dihuni tahanan politik perempuan. Sampai akhirnya dibebaskan pada 19 November 1975, tidak satu pun bukti keterlibatan dalam aktivitas PKI yg diberikan penguasa kepadanya. "Saya pun dibebaskan karena saya sakit-sakitan," katanya. "Di surat saya bukan 'bebas', tapi 'lepas', seperti burung saja saya ini". Memasuki era reformasi Nani mengajukan gugatan kpd pemerintah yg tidak mau mengeluarkan KTP seumur hidup kpdnya yg sudah renta. Dan berkat bantuan sahabat kita @taufikbasari Nani pun memenangkan gugatannya hingga tingkat kasasi MA.

Banyak diantara mereka yg dituduh PKI kemudian dihukum adalah orang2 yg sama sekali bukan anggota PKI. Maka pemandangan umum yg sering terlihat di “markas” saat itu adalah wajah2 keheranan mengapa mereka dituduh terlibat PKI. Hal serupa dialami juga dialami oleh Lukas Tumiso alias Cak So, seorang guru SD di kota Surabaya. Teman-teman sesama gurunya pada heran ketika pada Desember 1965 Cak So diciduk tentara dan digelandang ke Kodim

“Mosok aku iki anggota PKI seh?” ujarnya ketika itu. Anggota atau bukan yg jelas Cak So harus ikut ke Kodim utk jalani pemeriksaan. Di Kodim Cak So dikumpulkan dg orang2 senasib dari berbagai latar belakang, mulai dari pejabat hingga tukang becak. Namun ada kesamaan diantara mrk, yaitu roman muka keheranan. Mrk tdk tahu mengapa dikumpulkan di situ dan dituduh terlibat PKI.

Sampailah pada hari tak terlupakan bagi Cak So seumur hidupnya itu. Dg pengawalan ketat Cak So digiring ke ruang pemeriksaan. Disana sudah menunggu beberapa orang tentara lengkap dg peralatan untuk interogasi spt cambuk, tang, obeng, dll. Tidak lama kemudian apa yang dikhawatirkan Cak So terbukti. Dirinya ditanyai tentang keterlibatannya dengan PKI. Dan krn menjawab tidak, mk berbagai hajaran bertubi2 mampir ke tubuhnya yg kerempeng. Dirinya terlempar kesana kemari bagaikan bola.

Setiap dia jatuh oleh tendangan, maka dengan enteng kaki yang paling dekat dengan tubuhnya ganti menendangnya. Karena hajaran yang diterima Cak So itu ternyata tak mampu memaksa dirinya untuk mengakui sebagai aktivis PKI, mk para prajurit yg memeriksa mulai menimang2 tang. Alat yang biasa untuk mencabuti paku dari papan ini sekarang dialihfungsikan. Yakni untuk mencabuti kuku para tahanan yang tidak mau mengaku sebagai anggota PKI
. satu persatu jarinya disuruh mengacungkan ke depan para petugas itu. Dengan tertawa2 mereka mulai mencabut kuku Cak So.

Hadooh..! Hadooh..! Ampun Gusti Allah, paringono kuat!! Jerit histeris Cak So tak tahan mnerima sakit akibat siksaan yg diterimanya. Setiap satu kuku yang berhasil dicabut, mereka bertanya, “PKI yoo, ayo endhi bolomu?” tanya prajurit sembari berteriak.. Tapi sebesar apa pun siksaan terhadap diri Cak So, tetap saja lelaki kerempeng ini tak pernah mengakui sebagai anggota PKI. Ketika beberapa hantaman mampir ke tubuhnya, dan beberapa ruas jarinya sudah tidak ada kukunya lagi, akhirnya Cak So menyerah juga.

Pengakuan ini semata-mata disebabkan oleh tubuhnya yang memang sudah tidak mampu lagi bertahan terhadap siksaan yang dia terima. “Awakku wis kadhung ajur, kalau tidak mau mengaku bisa tewas seketika itu juga,” kenangnya mengenaskan Di dalam sel Cak So berpesan kepada tahanan lain, bila ditanya supaya cepat2 mengaku sebagai orang PKI saja. Krn dgn begitu siksaan tidak terlalu banyak diterima. “Paling dikaplok pisan, kalau sudah ngaku PKI terus dikembalikan lg ke selnya. Inilah rupanya yg membuat begitu banyak orang2 tidak bersalah terpaksa menjadi anggota PKI. Ini masalah hidup dan mati bagi mereka.

Celakanya para petugas orba ini tidak berhenti sampai pada pengakuan si terperiksa saja, mereka juga mengembangkan penyelidikan. Jadi setiap kali petugas bertanya kepada seorang tahanan, dan si tahanan itu mengaku dirinya PKI, maka pertanyaan akan diteruskan; siapa ketuanya, sekretarisnya, anggotanya berapa. Pokoknya, semuanya lengkap. Dan krn sudah mengaku maka para tahanan harus menjawab. Cara-cara pengembangan penyelidikan itulah yang membikin lebih banyak lagi orang2 tak bersalah menjadi tertuduh PKI.

Padahal, sebagian besar yang dijebloskan ke tahanan tidak tahu apa2. Jadi mereka asal “nyokot” (asal sebut nama orang yg dia kenal). Maka si orang yang disebut itu otomatis dijadikan tumbal dan harus hancur kehidupan keluarganya bahkan sampai kehilangan nyawa. Biasanya yang mereka sebut adalah tetangga, saudara, atau kerabat-kerabat yang lain. Sedangkan kalau ditanya ttg struktur organisasi biasanya mereka menyebutkan, ketua RT, RW, carik, atau lurah tempat mereka tingggal.

Maka terjadilah fitnah berantai. Inilah sistem keji yg diciptakan orde baru yg memaksa rakyat untuk saling memfitnah satu sama lain. Byk orang yg tidak tahu-menahu tentang peristiwa itu menjadi tumbal. Ini menjadikan keluarga mrk dikampung bermusuhan dan saling benci. Sehingga banyak di antara tetangga yang tidak saling tegur selama bertahun-tahun, kendati sebelumnya saling kenal baik. Namun banyak juga diantara mereka yg sengaja menuduh tetangga lantaran dendam, iri, atau menginginkan istri atau harta tetangganya.

Krn memang umumnya orang yg di PKI-kan rumahnya akan dijarah dan korban maupun keluarganya akan kehilangan hak sbg manusia. Maka mereka kemudian ikut-ikutan menghancurkan rumah tangga orang dg menuduhnya sebagai anggota PKI di kampungnya. Setelah mengaku Cak So kemudian ditahan di Kodim. Yang ada dalam benak pikirnya, bagaimana anak dan istrinya di Ponorogo. “Apalagi anakku masih umur 3 bln, itu yang terus menghantui pikiranku” kata Cak So. Dan kekhawatiran Cak So segera mendapat jawaban. Saat atasan istrinya mengetahui ihwal penahanan dirinya, atasan itu langsung memecatnya dari tugas kebidanan di RS Ponorogo.

Selanjutnya Cak So ikut jadi tahanan yang dibuang ke Pulau Buru. Disinipun penderitaan neraka dunia berlanjut pada hidup Cak So. Tepat 10 tahun 2 bulan Cak So akhirnya dibebaskan krn adanya tekanan dunia internasional terhadap pemerintahan Soeharto saat itu. Sesampai kampung halaman dia harus merelakan istri tercintanya sudah menikah lagi dg lelaki lain dan anaknya tidak mengenalinya. Begitu byk kisah memilukan orang2 yg jadi korban di PKI-kan. Semua mereka adalah korban dari sistem yg dikembangkan rejim orde baru.

Menuduh orang sebagai PKI adalah senjata pamungkas yg terukur efektifitasnya. Dijamin korban fitnah akan hancur kehidupannya! Tidak ada pilihan menjadi orang netral pada waktu itu. Bersikap netral berpotensi mengundang tuduhan di PKI-kan. Jangan dikira dgn tidak ikut2an organisasi apapun hidup kita akan aman. Asal ada tetangga yg mem-PKI-kan kita maka selesailah sudah! Itulah jaman paling mengerikan yg pernah terjadi di bumi pertiwi ini. Itulah jaman saling fitnah sesama anak negeri.

Kengerian luar biasa yg dialami korban serta propaganda terus-menerus rejim orba membuat rakyat trauma terhadap tuduhan PKI. Hampir 50 tahun sejak jaman jahanam itu, kita kembali menemukan pihak2 yg mulai bermain api dg isu mem-PKI-kan lawan2nya. Jokowi yg tidak ada hubungan sama sekali dg PKI kini ramai di PKI-kan oleh lawan2 politiknya. Inilah tanda2 kembalinya jaman orba! Sungguh aneh, dia yg kesana kemari bangga dg kostum ala Soekranonya justru menggunakan gaya2 Soeharto mem-PKI-kan lawan2 politiknya.

Sungguh aneh, dia yg selalu bangga dg slogan INDONESIA RAYA itu kini memecah belah bangsa ini hanya demi ambisi kekuasaan! Anda.. ya anda, yg saat ini ikut2an mem-PKI-kan tidak paham bahwa kelak anda sendiri bisa di PKI-kan oleh orang yg sedang anda bela! Apakah ingin menghadirkan kembali jaman fitnah mengerikan itu di negeri ini? Apakah anda sadar resikonya bagi keluarga anda sendiri? Bs jd anda enteng mem-PKI-kan Jokowi dibulan Ramadhan ini. Tp percayalah, akan mjd sangat tdk lucu jk ibu anda bernasib spt Ibu Nona!

Bisa jd anda menerima rejeki dari mem-PKI-kan Jokowi. Tapi percayalah, saat fitnah menjadi panglima maka anda pun bisa jd korbannya! Bangsa ini harusnya bersatu. Jangan kembalikan bangsa ini ke masa-masa mengerikan dimana kita dipecah-belah oleh fitnah! Pilihan kembali kpd kita masing2. Akankah kita memenangkan calon pemimpin yg ingin mengembalikan bangsa ini ke jaman berdarah itu? Atau kita bersatu-padu menolak kembali dihadirkannya ketakutan dan teror saling mem-PKI-kan satu sama lain? Apa yg hendak kita cari? Mempertahankan dan memajukan demokrasi ini atau mengembalikan kekuasaan diktator di negeri ini?

Pemilu kali ini berbeda dg pemilu2 sebelumnya. Belum pernah ada cara2 yg mendekati kebiadaban jaman orba sebelum saat ini. Kepentingan2 yg luar biasa besar dibalik mrk memaksa mrk untuk menghalalkan menggunakan cara2 biadab yg telah lama kita tinggalkan. Keputusan anda akan menentukan masa depan bangsa ini dan masa depan orang-orang yg anda cintai! Jika anda ingin anak-anak anda hidup dalam teror dan ketidakpastian silahkan pilih Prabowo. Lalu lihatlah apa yg akan terjadi kelak!

Jika anda ingin kebebasan dan demokrasi dipertahankan silahkan pilih Jokowi! Dan biarkan negeri ini memiliki pemimpin yg melayani. Hidup adalah pilihan. Ini tentang hidup anda, ini tentang masa depan anak-anak anda! Sekian kultwit kami. Semoga mencerahkan dan menambah wawasan kita semua. Terimakasih


Source : @PartaiSocmed

0 Response to "PKI - Kan Saja !"