HotCopas.net

Mengapa Ada Sepeda Mahal ?

Kenapa Sepeda Mahal?Bahkan Ada yang Seharga Mobil



Sepeda Mahal!, Kenapa?

Seringkali ketika saya jalan-jalan ke toko sepeda banyak orang terkejut ketika melihat banderol harga yang tergantung di sebuah sepeda. “Gila harga sepeda ngalah-ngalahin sepeda motor, kok bisa begitu ya? Kenapa?”. Pertanyaan ini membuat saya tergelitik untuk membuat note di web B2W, semoga berguna dan menjadi pencerahan buat temen-temen lain, kalo ada kekurangan disana-sini silahkan ditambahkan, mari kita berbagi wawasan.

Persentase Produksi Sepeda Menengah dan Premium Paling Tinggi.

Saya adalah orang yg kurang setuju jika harga sepeda selalu di banding dengan kendaraan bermotor, sepeda motor khususnya, kenapa? Sepeda motor hadir sebagai jawaban dari sebuah kebutuhan akan transportasi murah, cepat, dan praktis. Dengan motor kebutuhan masyarakat akan alat transportasi sudah terpenuhi.

Bagaimana dengan sepeda? Sepeda pada awalnya adalah alat trasportasi andalan masyakat kita, seiring dengan waktu alat transportasi ini bergeser, masyarakat lebih menyukai motor, dan sepeda akhirnya di lupakan.

Saat masayarakat kita menyukai sepeda sebagai transportasi sederhana, sepeda biasa-biasa saja sudah cukup, dan harga sebuah sepeda untuk harian (model citybike, jengky) sangat terjangkau dan bisa di bilang murah. Dari beberapa artikel yg saya baca sepeda-sepeda kelas biasa/murah ini dulu banyak di datangkan dari Taiwan dan China. Lho kok begitu? Kabarnya industry sepeda di Indonesia saat itu belum bisa memenuhi permintaan pasar akan sepeda kelas menengah ke bawah. Illustrasi di bawah ini sebagai contoh salah satu pabrik sepeda Indonesia yg sudah sangat di kenal, PT. Insera Sena.

Mari kita jenguk salah industry sepeda yg sangat hebat di daerah Sidoarjo, PT. Insera Sena, yg berdiri th 1989, perusahaan menempati area 30.000m2 dengan bangunan seluas 18.000m2, wow bisa dibayangkan betapa luasnya area pabrik sepeda ini. Selain itu PT. Insera Sena didukung lebih dari 340 karyawan, dan mampu memproduksi 360.000 unit lebih pertahun.

PT. Insera Sena, mempunyai persentase global untuk produksi jenis sepeda MTB 65%, 30% sepeda trekking, dan 5% persen model sepeda lain. Dan yg lebih hebat lagi ternyata 60% produksi sepeda PT. Insera Sena di ekport ke 5 benua lebih dari 30 negara. (www.insera.co.id).

Dari web resmi PT. Insera Sena ketika kita membuka link Domestic Produk (http://www.polygoncycle.com/) saja kita bisa melihat betapa banyak jenis sepeda kelas Premium yg mereka buat, dan prosentase untuk sepeda kelas biasa ternyata sangat kecil.

Dari model presentase produksi kita bisa lihat pabrik sepeda lebih fokus kearah MTB dan kelas premium angka presentasinya bisa mencapai 65%, 30% sepeda trekking, dan 5% persen model sepeda lain. Akibatnya kebutuhan sepeda kelas menegah ke bawah mesti di bantu dengan import dari luar negri.

Sedang pabrikan sepeda motor prosentase terbesar produksi ke arah model motor bebek dan matic, bukan motor kelas premium,terlihat jelas persentase produksi yg berlawanan arah. Engga heran di pasaran sepeda yg sering kita jumpai memang kelas menengah dan premium, dan ketika bersanding dengan harga sepeda motor terasa banget perbedaannya. Yang sepeda harga premium, yg motor harga kelas bebek dan matic, ya jangan di bandingkan ga adil. Jadi mahalnya harga Anda sekarang tahu kan gambaran sejarahnya.

Permintaan Sepeda kelas Premium Sangat Tinggi.

Terus kenapa pabrikan model PT. Insera Sena tidak membalik prosentasenya saja? Wah saya sendiri kurang tahu pasti, itu rahasia dapur mereka. PT. Insera Sena memang berkonsentrasi pada produk exportnya yg di minta 5 benua dari 30 negara lebih. Suatu kebanggaan tersendiri kalau industry sepeda Indonesia di percaya oleh konsumen dan brading-branding merek terkenal dari luar negri untuk memasok sepeda kelas Premium di negara mereka. Sepeda produksi anak negri di anggap sangat bermutu, memenuhi standart international, design bagus, dan layak ikut kompetisi kejuaraan kelas dunia. Mungkin kita pernah dengar merek Scott, Kona dlsb itu pabrikan Sidoarjo, proses finishing dan perakitan di negara pemesan, saya sendiri sih belum konfirmasi ke PT. Insera Sena, cuma dengar dan baca dari beberapa artikel.

Karena tingginya pesanan sepeda kelas Premium akhirnya produksi sepeda kelas menengah kebawah di dalam negri rada keteter, dan mesti di bantu import dari negara lain yg memang memproduksi massal sepeda kelas menegah ke bawah.



Namanya Premium Pasti Mahal, dan Toko Hanya Jual yg Laris.

Seiring dengan bergeraknya jaman, orang-orang yg tadinya sudah melupakan sepeda, tiba-tiba balik lagi ke sepeda, penyebabnya sepeda lagi naik daun, dan mereka sangat terkejut dengan harga sepeda, terus teriak “Sepeda Mahaaaal!”

Sebuah kenyataaan mereka sekarang berhadapan dengan sepeda kelas medium dan High End (Kelas Premium) begitu datang ke toko sepeda, sedang sepeda kelas biasa yg dulu mereka kenal sudah jarang di temui. Hal ini sangat masuk akal, pedagang sepeda yg melihat daganganya sepi mulai memutar otak, tidak mungkin mereka terus-menerus jualan sepeda kelas biasa, karena orang sudah pindah ke motor.

Toko-toko sepeda akhirnya memperbanyak stok sepeda model MTB kelas menengah dan high end, karena mereka melihat pangsa pasar ini tidak pernah surut, bahkan terus mengeliat naik, dari pengalaman saya, peminat sepeda MTB tidak pernah berubah, tetap konsisten semakin banyak dan menjamur. Makanya jangan kaget kalo ke toko sepeda semua sepeda yg di pajang 75% harganya mahal-mahal, karena rata2 yg ada jenis sepeda MTB, meskipun di beberpa toko mereka juga menjual yg murah, tapi tidak banyak.

Singkat kata sepeda kelas menengah dan high end masih banyak peminat dan otomatis toko kebanyakan memajang sepeda kelas premium, yg namanya premium pasti mahal. Sebagai illustrasi silahkan Anda maen ke Roxy-mas atau ITC-ITC laen pusat HP, sekarang yg banyak di pajang oleh toko apa? Pasti BlackBerry, iTap, iPhone, dan Gadget Android, mahal2 ya? Tapi pembelinya tetep banyak dan angka pembelian sangat tinggi kan? nah kalo kita cari Nokia Pisang kira2 ada ga? Kan murah tuh! Ada sih tapi sangat susah untuk ngubek-ubek tokonya dan kalau pun ada pasti penjualnya acuh tak acuh melayani kita.

Tapi jangan khawatir, kita tinggal di Indonesia, semua serba ada. Mulai dari sepeda yg sangat mahal sampe kelas abal2. Ibarat kita belanja mau ke Mall dengan lantai marmer licin mengkilat atau pasar tradisional yg becek2, dan bau pesing. Sekarang kembali kepada kita mau cari sepeda apa? Pilihlah tempat belanja sepeda yg pas buat kantong Anda.



Material, R&D, Kepresisian, Pembuatan Antar Negara dan Hak Paten Technologi.

Sekarang kita coba masuk ke diskusi yg lebih mendalam. Sepeda kelas premium kenapa bisa mahal? Sepeda mahal di rancang oleh team2 ahli melalui riset dan pengembangan yg butuh banyak dana, semua hasil temuan di kaji dan test ulang berdasar standart mutu kelas tinggi. Bahkan terkadang mereka harus bekerjasama antar Negara. Sepeda model tertentu di kerjakan di Negara A sedang proses finishing dan perakitan di Negara B, atau Negara pemesan. Sepeda kelas premium satu persatu komponennya di buat sangat presisi, dengan material terbaik dan technologi tercanggih. Untuk kelas MTB XC produsen sepeda berupaya membuat sepeda seringan mungkin, dengan material sebagus mungkin dan kualitas sebaik mungkin. Penggunaan material alumunium berkualitas terbaik yg di olah menggunakan mesin CNC agar mendapat nilai presisi yg sangat tinggi.

Belum lagi penggunaan Carbon Fiber dengan tujuan mengejar bobot ringan, yg bisa memangkas bobot dengan angka yg sangat fantastic. Pengerjaan yg rumit, hitung-hitungan yg jlimet, design yg cantik dan menarik, penggunaan peralatan yg serba canggih dan mahal, plus uji coba ini yg membuat sepeda menjadi berkelas.

Bagaimana kelas premium Ti (Titanium)? Sepeda Ti framenya dibuat dari Titanium no 1 (mungkin ada juga yg pake Ti kelas di bawahnya). Titanium merupakan logam mahal dan terkuat, material ini susah di potong, susah korosi dan bobotnya sangat ringan. Pabrikan sepeda memilih material Ti untuk frame sepeda dengan alasan karakter Ti yg kuat akan bisa di buat tubing setipis mungkin sehingga menjadi sangat ringan dan tetep kuat. Ti sangat lendut alias lentur cocok untuk kebutuhan sepeda model XC. Tapi persoalannya proses pembuatan frame Ti sangat susah, Ti susah dipotong, susah dibentuk dan susah disambung/dilas. Makanya tidak heran kalo sepeda-sepeda Ti modelnya simple.

Persoalan di geometry frame juga menjadi sangat serius, frame Ti yg lendut tidak di sukai oleh beberapa altit karena mereka jadi kehilangan momentum saat akselerasi, frame sepeda yg lentur meredam bejekan/pedaling sang atlit, sehingga banyak tenaga terbuang. Di sisi lain beberapa atlit malah menyukai frame Ti karena meredam getaran saat melewati medan berbatu dan ancur-ancuran. Untuk memecahkan kasus ini pabrikan sepeda berpikir keras untuk bisa membuat frame Ti berkualaitas bagus dan di sukai banyak orang, banyak biaya untuk riset dan development, bahkan sampai titik eksekusi produksi harus tetep berhadapan dengan biaya mahal karena karakteristik logam Ti. Belum lagi sepeda model begini tidak akan diproduk massal alias diproduksi cuman beberapa ratus unit saja, nah semua biaya tadi tertutup tidak dengan jumlah produksi yg akan di jual? untuk menutupi semua biaya itu harga frame yg pasti naik ke angka yg fantastic.

Jadi sepeda mahal karena, prosentasi produksi kelas premium di angka tertinggi, material mahal, R & D butuh banyak dana, pengerjaan susah, satu persatu komponen di produksi dengan komponen terbaik, tingkat kepresisisan tinggi, bobot teringan, pebayaran hak lisensi pada technology tertentu, tidak di produksi massal alias dalam jumlah tertentu, dslb.

Untuk mensiasati itu pabrikan sepeda mengeluarkan banyak seri sesuai dengan seri duit yg ada di dalam dompet kita, iya nggak?



Source : miptah80

0 Response to "Mengapa Ada Sepeda Mahal ?"