HotCopas.net

Jassenburg Pusat Pelacuran Batavia Pada Abad XVII


Di pertengahan abad XVII pelacuran belum marak. Tapi sudah tertata. Saat itu pusatnya berada di pusat kota. Tak jauh dari Benteng Batavia. Persisnya berada di Jassenburg. Kawasan ini berada di dekat Stasiun Kota.

Ridwan Saidi dalam bukunya berjudul 'Rode Lamp Van Batavia tot Jakarta' menuliskan soal Jassenburg ini. Dia menulis di pertengahan Abad XVII warga Mestizo (keturunan Portugis) adalah pemilik rumah-rumah lacur disana.

Ridwan Saidi menggambarkan Jassenburg selalu ramai setiap malam. Rumah-rumah lacur disana memiliki loteng.

Saat malam hari banyak pemuda-pemudi berkumpul dan para tentara datang kesana. Mereka bermain gitar di pinggir-pinggir jalan. Sementara gadis-gadis Mestizo berhidung mancung, bermata bulat dan berkulit hitam manis duduk di loteng rumah dan siap melayani seks.

Apa yang ditulis Ridwan Saidi cocok dengan yang ditulis Hendrik E Niemeijer dalam bukunya berjudul 'Batavia Masyarakat Kolonial Abad XVII'. Dalam bukunya, Hendrik menulis bahwa banyak pelacur terkenal di abad XVII memiliki nama Portugis. Artinya mereka seorang Mestizo (keturunan Portugis). Nama-nama pelacur Mestizo itu, seperti Adriana Augustijn, Anna de Rommer, Dominga Metayeel, dan Lysbeth Jansz. Dari namanya pelacur ternama ini adalah Mestizo, separuh Portugis.

Tapi Hendrik tak menjelaskan itu dalam bukunya secara gamblang. Namun, portugis memang sudah masuk ke Nusantara satu abad sebelum VOC masuk, abad XVI. Makanya di abad XVII, tak heran anak-anak keturunan portugis sudah banyak. Mereka sebagian besar tinggal bersama keluarga ibunya yang pribumi. Sebab ayah Portugisnya tak mengurus mereka. Makanya kebanyakan miskin.

Begitupula budak-budak yang kemudian dibaptis memakai nama Portugis pun pasti sudah banyak jumlahnya di Abad XVII. Makanya jangan heran kemudian banyak nama wanita Portugis jadi pelacur.

0 Response to "Jassenburg Pusat Pelacuran Batavia Pada Abad XVII"