HotCopas.net

Sejarah Bisnis Kerajaan Keluarga Cendana Selama Presiden Soeharto Berkuasa

Sepak Terjang Mbak Tutut Selama Berkuasa



Kerajaan bisnisnya Group Citra Lamtoro Gung. Bisnis besar pertamanya membangun, mengoperasikan jalan tol. Proyek yg dimenangkannya tahun 1987, setelah mengalahkan 2 pesaing lainnya. Pembiayaannya berasal dari dua bank pemerintah, sebuah perusahaan semen, dan yayasan milik Suharto. Ketika presiden Bank Bumi Daya menolak permintaan Tutut akan pinjaman-bebas-bunga, ia langsung dipecat. Di pertengahan tahun 1990, jalan tol-nya menghasilkan $ 210.000 per-hari. Konsesi sistem jalan tol yang dipunyainya, jadi bisnis yang paling menguntungkan di Indonesia

Kerajaan Tutut meliputi telekomunikasi, perbankan, perkebunan,penggilingan tepung terigu, konstruksi, kehutanan, penyulingan, perdagangan gula. Pengusaha asing harus jadikan keluarga Suharto sebagai partner, bila hendak berbisnis, dan Tutut ada di deretan pertama di dalam daftar. Persaingan  semakin keras ketika anak-cucu Suharto mulai mencari berbagai monopoli di bisnis pinggiran. Bambang mendapat kontrak untuk mengimpor kertas mencetak uang. Tutut mengambil-alih usaha pemrosesan SIM. Perusahaan istri Sigit, Elsye, menjadi produsen tunggal  pembuatan KTP. Di tahun 1996, cucu Suharto, Ari Sigit, merencanakan skema penjualan stiker pajak minuman bir dan alkohol sebesar $ 0,25 per-botol di Indonesia (bisnis ini akhirnya hancur karena para produsen menstop pengapalan bir ke Bali sebagai protes. Sembilan bulan sebelum Suharto turun, Ari berusaha untuk mengadakan proyek "sepatu nasional", di mana semua anak Indonesia diharuskan untuk membeli sepatu sekolah dari perusahaan miliknya.

Bagaimana soal Bulog ? ini jadi lumbung uang. Dari tahun 1967 sampai tahun 1998, BULOG mengimpor dan mendistribusikan bahan-bahan pokok, melalui perusahaan yang terkait dengan Suharto, termasuk 6 milik Liem. Sesuai permintaan Bambang, Liem memberikan sebagian bisnis kepadanya. Dari perdagangan gula saja, Bambang mendapat keuntungan sebesar $ 70 juta setahunnya, hanya untuk menstempel dokumen. Sistem itu berjalan dengan begitu baiknya, sehingga setiap anak yang mau masuk ke bisnis diberi sebagian-sebagian dari bisnis tersebut. Dari tahun 1997 sampai 1998, Liem mendapat kontrak dari BULOG untuk mengimpor sekitar 2 juta ton beras yang bernilai $ 657 juta. Sebagai dari kontrak itu, disebutkan anak terkecil Suharto, Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek) mengimpor 300.000 ton beras yg bernilai $ 90,3 juta.

Selama 18 tahun terakhir, lewat adanya keinginan pemerintah untuk menstabilkan harga beras, anak-anak Suharto telah berhubungan dengan BULOG untuk menghasilkan sekitar $ 3 milyar sampai $ 5 milyar bagi mereka sendiri. Not bad at all. Salah satu penghasil uang utama bagi Suharto adalah PT. Nusantara Ampera Bakti, atau Nusamba, didirikan tahun 1981 oleh tiga yayasan Suharto dengan modal $ 1,5 juta bersama Bob Hasan dan Sigit Suharto (masing-masing memperoleh saham 10%). Perusahaan ini besar dengan lebih dari 30 anak perusahaan di bidang keuangan, energi, pulp dan kertas, baja dan otomotif. Jantung Nusamba adalah saham sebesar 4,7 % pada Freeport Indonesia. Dulu pernah punya saham di sana. Soal Sigit. Kegemarannya bermain judi bikin pusing KBRI kalau dia sampai kalah. Benny Moerdani sempat menahan paspornya agar dia tidak bisa keluar negeri. Sigit, anak yang tertua, secara jelas dipaksa oleh ibunya untuk masuk ke bisnis.

Seorang teman bu Tien pernah berbicara dengannya pada saat pemerintah sedang membangun bandara internasional Soekarno-Hatta. "Ia bilang pada saya, saya ingin Sigit belajar tentang Bisnis", katanya. Saya katakan Sigit menyelesaikan kuliahnya. Jawab ibunya, "Jangan, Sigit tidak bisa berpikir jelas". Narasumber yg bekerja proyek Bandara, ketika kedua terminal selesai di tahun 1984, ada $ 78,2 juta diserahkan ke Sigit dalam bentuk mark-up yg kelihatannya seperti biaya berjalan. Di tahun 1988, Departemen Sosial menetapkan adanya karcis SDSB yang dipegang oleh perusahaan Sigit. SDSB tersebut dapat terus beroperasi sampai tahun 1993. Pola judi tersebut membuat Sigit mendapat jutaan dollar setiap minggunya, kata Christianto Wibisono dari PDBI.

Baca Juga :
Sjafruddin Prawiranegara : Presiden yang tak dianggap
5 Pengaruh Besar Indonesia yang Mampu Mengubah Dunia!
Sosok Tersembunyi di Balik Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Sigit adalah penjudi yang serius. Seringkali berjudi rolet dan bakarat di kasino-kasino favoritnya, yaitu The Ritz London, Atlantic City dan Perth. Seorang partner bisnis bercerita, ia mengadu untung sebanyak $ 3 juta semalam. Dalam karirnya ia pernah kalah sebanyak $ 150 juta. Setelah Sigit kalah besar di Las Vegas akhir tahun 1980-an ayahnya melarangnya berjudi di luar negeri. Bandar judi di Jakarta mengorganisir judi bakarat melalui TV kabel. Dalam permainan ini, Sigiti kalah lagi sampai $ 20 juta, "Mereka hanya menciptakan kekalahan untuk Sigit". Walaupun banyak dari kekayaan Suharto hilang karena manajemen yang buruk dan juga karena ekonomi negara yang hancur - misalnya PT. Sempati Air milik Tommy bangkrut pada tahun 1998. Keluarga ini masih tetap memiliki banyak usaha yang masih memberikan keuntungan.

PT. Panutan Selaras milik Sigit yg memproduksi 25% dari bensin Premix High Octane yang banyak digunakan oleh mobil-mobil di Indonesia dan 22 tempat pengisian bensin di Jakarta, Surabaya dan Jawa Tengah. Sedangkan PT. Humpuss Trading milik Tommy juga memproduksi bensin High End. Bisnis yang lain lagi adalah bisnis Real Estate. Saat harga-harga property berjatuhan, kekayaan property keluarga ini diperkirakan sebesar $ 1 Milyar, dan banyak lagi termasuk perkebunan, mal-mal, hotel-hotel yang sampai saat ini masih terus membawa keuntungan. Bisnis yang lain lagi adalah bisnis Real Estate. Saat harga-harga property berjatuhan, kekayaan property keluarga ini diperkirakan sebesar $ 1 Milyar, dan banyak lagi termasuk perkebunan, mal-mal, hotel-hotel yang sampai saat ini masih terus membawa keuntungan.

Di pertengahan tahun 1980, Bambang membayar pemerintah $ 700 per m2 untuk sebidang tanah di Jakarta Pusat dimana berdiri Hotel Grand Hyaat, asset utama PT. Plaza Indonesia. Di Bali, anak-anak Soeharto berhasil menyabet permata yang paling berharga dari industri pariwisata. Saat itu ( entah sekarang ) Bali Cliff Hotel (Sigit), Sheraton Nusa Indah Resort (Bambang), Sheraton Laguna Nusa Dua (Bambang), Bali Intercontinental Resort (Bambang), Nikko Royal Hotel (Sigit), Four Seasons Resort Jimbaran (Tommy) & Bali Golf dan Country Club di Nusa Dua (Tommy). Menteri kehutanan Muslimin Nasution mengatakan terdapat 4.5 juta hektar hutan dan perkebunan yang terkait dengan anak-anak Suharto. Soal Mamiek. Diikasih saham di perusahaan saudara-saudaranya ditambah dengan usaha di bidang buah-buahan, transportasi dan telekomunikasi. Tahun 1995, Perusahaan miliknya Manggala Krida Yudha, ditunjuk untuk melaksanakan proyek bernilai $ 500 juta untuk reklamasi di Jakarta Utara.

Kemudian dia men-subkontrak proyek tersebut kepada perusahaan Hyundai (Korea) senilai $100 juta. Tapi proyek tersebut di batalkan pemerintah dalam usaha memberantas korupsi. Seorang bercerita, suatu ketika ia menawarkan bisnis kepada Mamiek untuk bekerja sama. Seminggu kemudian Mamiek kembali kepada dan berkata bahwa ia (Mamiek) tidak bisa mengerjakan bisnis tersebut karena ayahnya (Soeharto) telah memberikan bisnis tersebut kepada kakaknya Tommy. Keppres no. 92 /1996 memerintahkan setiap pembayar pajak dan perusahaan berpenghasilan $ 40.000 setahun, diharuskan menyumbang 2 % pendapatannya untuk Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, yang dibentuk untuk mendukung program pemberantasan kemiskinan ( Kebijakan ini dihapus Juli 1998). Pegawai negeri dan anggota militer menyumbang sebagian gaji kepada Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, yg digunakan Suharto untuk memenangkan dukungan dari umat Islam. Sementara "sumbangan" tersebut menjadi bagian besar dari penghasilan yayasan, masih ada sumber lainnya.

Di tahun 1978, Yayasan Suharto menguasai 60% saham Bank Duta, kata seorang pejabat Bank Duta. Saham tersebut bertambah menjadi 87 %. Kemudian yayasan-yayasan tersebut menginvestasikannya ke dalam berbagai perusahaan swasta yang didirikan anggota keluarga Suharto dan kroninya. Kita mau bicara Yayasan Yayasan Soeharto ? Banyak ada 80 yayasan yang dikuasai oleh Suharto, Bu Tien, saudara-saudara istrinya, sepupunya dan saudara tirinya, enam anaknya, keluarga dan orang tua pasangan anak-anak tersebut, orang-orang militer yg dipercaya, dan teman-teman dekat. "Yayasan-yayasan tersebut membeli berbagai saham, mendirikan berbagai perusahaan, meminjamkan uang kepada para pengusaha," kata Adnan Buyung Nasution, pengacara yang pada akhir tahun lalu mencoba membentuk komisi independen terhadap kekayaan Suharto.

Yayasan menerima "sumbangan", yang seringkali tidak dalam bentuk sukarela. Diawali di tahun 1978, seluruh Bank milik pemerintah diminta memberikan 2,5 persen keuntungannya untuk Yayasan Dharmais dan Yayasan Supersemar, demikian menurut Jaksa Agung terdahulu Soedjono Atmonegoro. Untuk Yayasan Yayasan Soeharto yang berjumlah 80 buah perlu thread khusus sepertinya. Banyak cengkune kemana mana. Nanti lain waktu deh

Saya masih ingat dulu mobil kantor dari Kijang diganti mobil Timor semua demi mensukseskan Mobnas yg pemiliknya adlh HMP. Memang dahsyat daya rusak mental rakyat akibat berpuluh2 tahun politik kekuasaan memanjakan rakyat dgn memanipulasi harga lewat subsidi. Mereka jadi sangat tergantung dari harga murah, dan lemah menghadapi keseharian dari harga naik. Pdhl harga itu adalah manifestasi keadaan real yg hrs dihadapi agar kita bisa tumbuh krn waktu. Memang berat, tapi kenyataan itu memang tidak ramah. Kalau saja dari dulu kita punya mental kreatif dan daya juang tinggi sbg pribadi yang tdk tergantung subsidi, mungkin kita sudah menjadi negara terbesar se ASIA.


Source : Iman Brotoseno @imanbr ( Twitter )

0 Response to "Sejarah Bisnis Kerajaan Keluarga Cendana Selama Presiden Soeharto Berkuasa"